Sangatta News – Suasana di SMAN 1 Sangatta Selatan (Smansatset) tampak berbeda, Selasa (5/5/2026). Sebuah bangunan modern berdiri gagah di halaman sekolah, siap menjadi kawah candradimuka bagi para pengusaha muda Kutai Timur. Fasilitas tersebut adalah unit minimarket dan workshop program dual track yang dibangun melalui dukungan dana CSR PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Diresmikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, fasilitas ini menjadi jawaban nyata atas tantangan dunia kerja bagi generasi muda.

Bangunan berukuran 6×16 meter ini bukan sekadar bantuan infrastruktur fisik. Menelan anggaran sebesar Rp487.740.264 dari dana CSR KPC tahun 2025, proyek yang dikerjakan secara swakelola ini dirancang menjadi wahana pembelajaran praktis.

“Mewakili Pemkab Kutim, saya mengucapkan terima kasih kepada KPC. Ini adalah terobosan yang patut dicontoh. Melalui pendidikan vokasi seperti ini, kita menyiapkan SDM yang unggul dan siap terjun ke dunia kerja,” ujar Mulyono saat membacakan sambutan Bupati Ardiansyah Sulaiman.

Kepala SMAN 1 Sangsel, Rubito, mengungkapkan bahwa kehadiran minimarket ini memperkuat posisi sekolahnya sebagai pionir program dual track di Kalimantan Timur. Sebagai informasi, Smansatset adalah Juara 1 Program Dual Track tingkat SMA se-Kaltim tahun 2024.

“Prestasi itu adalah buah kerja keras semua pihak, termasuk dukungan fasilitas dan pelatihan dari KPC. Minimarket ini bukan hanya unit usaha, tapi laboratorium praktik ritel. Di sini, murid belajar mengelola stok, manajemen penjualan, hingga mengasah naluri entrepreneurship,” kata Rubito bangga.

Program dual track di Smansatset merupakan skema pendidikan unik yang memadukan kurikulum akademik dengan keterampilan vokasional. Dengan adanya fasilitas ini, siswa tidak hanya lulus membawa ijazah, tapi juga membawa kecakapan hidup (life skills).

Peresmian ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Act Manager Community Empowerment KPC, Muhammad Yusuf, dan pihak sekolah, diikuti dengan pengguntingan pita yang disambut antusias oleh para siswa dan guru.

Bagi pemerintah daerah, kolaborasi antara sekolah dan dunia usaha adalah kunci menekan angka pengangguran. Di tengah arus perubahan ekonomi Kutim yang pesat, fasilitas ini menjadi pelita bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tapi juga pencipta lapangan kerja.