Sangatta News – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah bersiap melakukan lompatan besar di sektor industri hijau. Bukan lagi sekadar menjual buah segar, Kutim merancang hilirisasi komoditas nanas di Kecamatan Batu Ampar menjadi industri serat tekstil yang diincar pasar internasional.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengungkapkan bahwa Dusun Nanas di Desa Batu Ampar memiliki kekayaan alam yang unik. Nanas yang tumbuh di sana bukan hanya lezat untuk dikonsumsi, tetapi memiliki karakteristik serat daun yang istimewa dan tidak ditemukan di daerah lain.
Jika selama ini daun nanas kerap berakhir sebagai limbah, mulai 2026 Pemkab Kutim akan menyulapnya menjadi pundi-pundi rupiah. Proses pengolahan daun nanas menjadi serat benang hingga kain berkualitas tinggi ini merupakan bagian dari strategi ekonomi berkelanjutan.
“Potensinya sangat besar. Bahkan, saat ini sudah ada ketertarikan serius dari luar negeri, termasuk dari Jerman. Ini adalah peluang emas bagi Kutim untuk menembus pasar global berbasis ekonomi hijau,” ungkap Ardiansyah dengan optimistis.
Pengembangan industri serat nanas ini merupakan inti dari visi besar Bupati Ardiansyah untuk memberikan nilai tambah bagi para petani lokal. Namun, transformasi ini tidak berhenti pada urusan kain dan benang saja.
Pemkab Kutim juga tengah memperkuat sektor UMKM untuk mengolah daging buah nanas menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Seperti olahan pangan dengan memproduksi selai dan dodol nanas premium yang ditargetkan menembus rak-rak ritel modern nasional. Pemkab juga mberkomitmen melakukan pendampingan ketat terkait legalitas, perizinan, hingga sertifikasi keamanan pangan agar produk Batu Ampar mampu bersaing secara profesional.
Bupati Ardiansyah menekankan bahwa kualitas adalah harga mati jika ingin bersaing di pasar modern dan internasional. Ia telah menginstruksikan perangkat daerah terkait untuk mengawal para pelaku usaha mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses produksi akhir.
“Pemerintah daerah akan hadir untuk memastikan produk UMKM kita memiliki izin dan standar yang dibutuhkan. Kita ingin tercipta nilai tambah ekonomi yang signifikan di tingkat lokal yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” tambahnya.


Tinggalkan Balasan