Sangatta News – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) berkomitmen penuh untuk menjamin kemerdekaan beragama dan memberikan pengayoman setara bagi seluruh umat di wilayahnya. Keberagaman etnis dan keyakinan dinilai bukan sebagai sekat pemisah, melainkan anugerah sekaligus modal sosial utama untuk menggenjot pembangunan daerah.
Pesan persatuan tersebut ditegaskan secara terbuka oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, saat menghadiri Perayaan Syukur Tahunan, peresmian gedung pastori baru, sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-23 Gereja Toraja Jemaat Elim Sangatta, pada Kamis (6/6/2026).
“Pemkab Kutim mengayomi semua agama yang ada. Setiap agama mengajarkan kebenaran dan nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan kemanusiaan. Karena itu, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun daerah ini bersama-sama,” ujar Ardiansyah Sulaiman dalam sambutannya di hadapan ratusan jemaat dan tokoh lintas agama.
Momentum pertambahan usia pelayanan yang telah melewati dua dasawarsa ini dibingkai penuh sukacita lewat alunan puji-pujian, doa bersama, dan ungkapan syukur. Lebih dari sekadar perayaan seremonial, agenda ini membawa misi penting dalam merawat toleransi, memperkuat ketahanan iman, hingga menjaga kelestarian lingkungan hidup di Kutim.
Bupati Ardiansyah berharap, kehadiran fasilitas gedung pastori yang baru saja diresmikan tersebut dapat memberikan dampak positif yang nyata secara vertikal maupun horizontal. Ia berharap dapat menunjang kinerja internal dan roda pelayanan rohani jemaat gereja agar berjalan lebih optimal serta menjadi ruang pembinaan mental-spiritual yang mampu melahirkan maslahat, kebaikan, serta dampak sosial yang luas bagi masyarakat Kutim secara keseluruhan.
Suasana khidmat kian terasa saat memasuki sesi perenungan teologis mengenai makna iman di tengah dinamika zaman. Dalam khotbahnya, Pendeta (Pdt.) Elvis Saladan membawakan pesan mendalam yang menyentuh esensi spiritualitas jemaat. Mengangkat tema “Bersyukur Dalam Segala Hal” yang dinukil dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, Pdt. Elvis mengingatkan esensi fundamental orang percaya.
“Rasul Paulus mengingatkan kita untuk terus bersyukur dalam segala hal. Artinya, apa pun keadaan yang kita alami, baik suka maupun duka, kita harus tetap menyatakan ketergantungan kita kepada Tuhan,” papar Pdt. Elvis Saladan.
Ia menggarisbawahi bahwa rasa syukur sejati tidak boleh luntur atau hanya hadir saat seseorang berada di puncak keberhasilan dan menikmati berkat kebahagiaan. Syukur justru harus tetap dirawat dengan kokoh saat manusia dihadapkan pada pergumulan berat, kesulitan hidup, hingga kedukaan, sebagai bentuk pengejawantahan iman bahwa Tuhan selalu bekerja dan memelihara umat-Nya.
Tak hanya menyoroti sisi spiritualitas, Pdt. Elvis juga mengaitkan khotbahnya dengan nilai-nilai luhur kebudayaan adat Toraja yang dinilai tetap relevan dan adaptif di tengah derasnya arus modernisasi.
Secara filosofis, ia membedah makna Tongkonan (rumah adat Toraja) di tanah perantauan. Menurutnya, Tongkonan tidak boleh sekadar dilihat secara fisik sebagai bangunan arsitektur tradisional semata. Lebih dalam dari itu, Tongkonan merupakan simbol persekutuan suci, lambang persaudaraan erat, serta pengikat tali kekeluargaan yang menyatukan seluruh masyarakat Toraja di mana pun mereka berada, termasuk dalam menjaga keharmonisan hidup berdampingan dengan suku lain di Kutai Timur.


Tinggalkan Balasan