Sangatta News — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menegaskan bahwa upaya penanggulangan HIV/AIDS tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan konvensional seperti sekadar pencatatan data dan sosialisasi normatif. Tingginya mobilitas penduduk serta dinamika interaksi sosial menuntut terobosan yang lebih agresif, inovatif, dan menyasar langsung akar masalah.
Pesan tegas tersebut disampaikan Wakil Bupati Kutim sekaligus Ketua Tim Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutim, Mahyunadi, saat membuka Rapat Koordinasi Penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Kutai Timur Tahun 2026 di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Sangatta, Jumat (24/7/2026).
Mahyunadi menyoroti tren kasus yang cenderung terus merambat naik di daerah. Ia mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan forum ini guna merombak strategi pencegahan agar target zero new infections (tidak ada penambahan kasus baru) dapat tercapai.
“Saya minta KPAD tidak berhenti pada kegiatan pendataan dan penyuluhan di atas kertas saja. Perlu ada pendampingan intensif terhadap kelompok berisiko tinggi melalui pendekatan sosial, keagamaan, dan pembinaan moral agar mereka tergerak menjalani pola hidup sehat,” tegas Mahyunadi.
Selain memperkuat edukasi sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah, Wabup Mahyunadi menekankan krusialnya mengikis stigma negatif di tengah masyarakat yang selama ini menjadi penghambat utama pasien untuk memeriksakan diri atau mengakses pengobatan medis.
Ia mengimbau masyarakat untuk memberikan dukungan moral ketimbang pengucilan, sembari mengingatkan para penderita akan tanggung jawab moral mereka dalam menjalani terapi pengobatan secara teratur.
“Kita harus hilangkan stigma yang membuat penderita takut membuka diri atau berobat. Di sisi lain, para penderita juga memiliki tanggung jawab besar untuk disiplin berobat demi melindungi orang-orang di sekitarnya dari penularan,” imbaunya.
Sekretaris KPAD Kutim, Marten Luther, menjelaskan bahwa Rapat Koordinasi 2026 ini dirancang sebagai ruang evaluasi kritis atas efektivitas program berjalan, pemetaan kendala lapangan, serta penyelarasan strategi layanan kesehatan di seluruh Kutai Timur.
Marten menyadari bahwa KPAD tidak bisa bergerak sendirian. Sinergi lintas sektor—termasuk keterlibatan aktif perusahaan swasta, fasilitas kesehatan, dan organisasi kemasyarakatan—merupakan kunci utama penanganan HIV/AIDS yang efektif.
“Penanggulangan HIV/AIDS adalah kerja kolektif. Melalui forum ini, kami memperkuat kolaborasi lintas OPD dan dunia usaha agar intervensi yang kita lakukan dari hilir hingga hulu memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” jelas Marten.


Tinggalkan Balasan