Sangatta News – Jalur urat nadi yang menghubungkan Sangatta dan Bontang kembali memakan korban. Kondisi jalan di kawasan Desa Danau Redan, Kilometer 17, Kecamatan Teluk Pandan, kini berada dalam level yang sangat memprihatinkan.
Puncaknya, pada Senin (22/12/2025) pagi, sebuah kecelakaan beruntun melibatkan dua truk besar terjadi akibat lubang menganga yang cukup dalam. Satu truk terguling melintang, sementara satu lainnya terperosok ke dalam lubang maut, menyebabkan arus lalu lintas lumpuh total. Kemacetan panjang mengular, hanya menyisakan celah sempit bagi pengendara roda dua.
Menanggapi hancurnya aspal di ruas jalan nasional tersebut, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur, Yudi Hardiana, angkat bicara. Ia menyebut upaya perbaikan jalan selama ini hanyalah solusi sesaat jika “biang kerok” utamanya tidak ditindak.
“Ini menjadi lingkaran setan. Kami terus membangun dan memperbaiki, namun umur pakai jalan menjadi sangat pendek karena beban kendaraan yang ekstrem (ODOL). Tanpa pengendalian, anggaran negara hanya akan habis untuk memperbaiki titik yang sama berulang kali,” ungkap Yudi, Selasa (23/12/2025).
ODOL (Over Dimension Over Load) adalah kendaraan yang dimodifikasi ukurannya dan dipaksa mengangkut muatan jauh di atas kapasitas desain jalan. Aspal di Kaltim didesain untuk beban tertentu sehingga truk ODOL yang dapat merusak struktur jalan, menghancurkan fondasi dari bawah.
Muatan berlebih adalah penyebab nomor satu pendeknya umur pakai aspal di jalan nasional. Selain merusak fasilitas, truk ODOL dengan pengereman yang tidak maksimal menjadi ancaman maut bagi pengguna jalan lain.
Jembatan Timbang dan Penegakan Hukum
Yudi menjelaskan bahwa BBPJN hanya memiliki kewenangan teknis perbaikan, bukan eksekusi di lapangan. Ia “melempar bola” kepada instansi terkait untuk segera bertindak nyata. “Kunci keberhasilan pemeliharaan jalan ada pada penegakan aturan oleh Dinas Perhubungan dan Kepolisian. Pengaktifan kembali jembatan timbang di titik strategis adalah solusi mendesak untuk menyaring truk-truk nakal,” tambahnya.
Persoalan jalan rusak di Kutim bukan lagi sekadar masalah teknis infrastruktur, melainkan masalah keselamatan nyawa manusia. Predikat Kutai Timur sebagai daerah kaya mineral akan terasa hambar jika warganya harus bertaruh nyawa setiap hari di atas aspal yang remuk.
Dibutuhkan keberanian politik dan ketegasan aparat untuk menghentikan truk-truk ODOL sebelum lebih banyak nyawa melayang di jalur maut Sangatta-Bontang.


Tinggalkan Balasan