Sangatta News — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) beralih ke strategi pencegahan proaktif dalam penanganan HIV, menandai babak baru dalam perang melawan virus tersebut. Tahun depan, Dinas Kesehatan (Dinkes) akan meluncurkan program pre-exposure prophylaxis (PrEP), obat yang diberikan kepada individu berisiko tinggi sebelum terinfeksi HIV.

Plt Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menjelaskan pelaksanaan PrEP baru bisa dilakukan setelah seluruh tenaga pelaksana di puskesmas dan kecamatan menjalani pelatihan teknis. “Tahun ini fokus pada pelatihan, tahun depan baru implementasi,” katanya.

PrEP diperuntukkan bagi mereka yang berisiko tinggi, seperti pasangan dari orang dengan HIV positif, pekerja seks, atau kelompok dengan perilaku seksual berisiko. Pemberiannya dikombinasikan dengan edukasi dan pemantauan rutin. “Program ini bukan sembarangan. Kami ingin masyarakat memahami pentingnya pencegahan, bukan sekadar pengobatan,” ujar Sumarno.

Tantangan terbesar, menurut Sumarno, adalah penerimaan masyarakat. Masih banyak stigma dan tabu terkait HIV, sehingga penyuluhan dan edukasi menjadi kunci sukses program. Untuk itu, Dinkes telah memperluas edukasi HIV ke hampir semua SMP dan SMA di Kutim, sekaligus mendorong pasien HIV lama untuk menjadi agen edukasi di komunitas mereka.

“Banyak pasien positif kini membantu memberikan penyuluhaan kepada orang lain agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mereka menjadi bagian dari strategi pencegahan,” tambahnya.

Program PrEP juga selaras dengan target nasional eliminasi HIV 2030: 90 persen penderita mengetahui statusnya, 90 persen di antaranya menjalani pengobatan, dan 90 persen memiliki virus tak terdeteksi.

Sumarno menekankan, jika pengobatan HIV ibarat memadamkan api, maka PrEP adalah langkah mencegah percikan api. Kehadiran program ini diharapkan dapat mengubah paradigma yang ada di masyarakat bahwa HIV bukan sekadar penyakit yang ditakuti, tetapi isu kesehatan yang bisa dicegah bersama. (Adv)