Sangatta News – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, memberikan tantangan terbuka kepada para calon Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II.b) untuk melahirkan terobosan nyata. Hal ini ditegaskan Bupati saat meninjau pelaksanaan seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di Ruang CAT BKPSDM Kutim, Sabtu (4/4/2026).
Dalam arahannya, Ardiansyah mengungkapkan fakta bahwa capaian pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kutai Timur saat ini baru menyentuh angka 40 persen. Angka ini dinilai masih jauh dari target ideal pembangunan daerah.
Bupati menekankan bahwa Kutim membutuhkan figur pemimpin yang mampu bekerja di luar rutinitas (out of the box) guna mengejar ketertinggalan tersebut.
“Kita harus jujur, pembangunan infrastruktur kita belum sempurna, tingkat kematangannya masih di angka 40 persen. Saya berharap saudara-saudara yang mengikuti seleksi ini mampu menerjemahkan visi pembangunan dengan baik dan cepat,” ujar Ardiansyah di hadapan para peserta seleksi.
Secara khusus, Bupati menyentil kaku dan lambatnya proses administratif dalam penanganan pemulihan pascabencana. Ia mencontohkan musibah kebakaran di Desa Batu Timbau, Kecamatan Batu Ampar, yang terjadi hingga tiga kali namun respons pemulihannya dinilai berlarut-larut karena kendala kajian teknis.
“Cari cara agar recovery (pemulihan) untuk masyarakat bisa cepat selesai tanpa harus menunggu kajian yang berlama-lama. Perlu inovasi dan adaptasi kebijakan yang berorientasi pada pelayanan rakyat,” tegasnya.
Berdasarkan laporan Panitia Seleksi (Pansel) yang disampaikan oleh Saepudin, saat ini terdapat 23 peserta yang tengah berkompetisi memperebutkan empat jabatan strategis sesuai Pengumuman Nomor 05/PANSEL-JPTP/KUTIM/III/2026.
Keempat jabatan tersebut adalah:
- Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker)
- Kepala Dinas Pariwisata (Dispar)
- Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP)
- Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Diskop-UKM)
Para peserta wajib melewati empat tahapan seleksi ketat, meliputi penulisan makalah, assessment center, wawancara, hingga rekam jejak.
Selain menuntut inovasi, Ardiansyah juga memberikan peringatan keras terkait kedisiplinan ASN. Ia mensinyalir masih adanya pelanggaran disiplin di lapangan dan berencana memperketat sistem pengawasan kehadiran.
“Saya ingin memperketat presensi kehadiran. Tidak ada artinya rencana besar jika disiplin dasar kita masih lemah. Pejabat yang terpilih nanti harus menjadi contoh dalam penegakan disiplin di instansinya masing-masing,” tambahnya.


Tinggalkan Balasan