Sangatta News — Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menginstruksikan seluruh Perangkat Daerah (PD) untuk segera meluncurkan langkah mitigasi radikal demi menghadapi ancaman nyata fenomena El Nino. Puncak kemarau ekstrem ini diprediksi akan memanggang wilayah Kutim pada akhir tahun 2026, dengan fase paling kering dimulai pada Agustus hingga September mendatang.
Pesan tegas tersebut disampaikan Bupati saat membuka High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Ruang Tempudau, Kantor Bupati Kutim, Sangatta, Senin (13/7/2026). Langkah cepat ini dinilai harga mati demi mengamankan pasokan pangan, air bersih, mengendalikan inflasi, serta mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Bupati Ardiansyah mengingatkan jajarannya agar tidak meremehkan anomali cuaca tahun ini. Berkaca dari belahan dunia lain, serangan gelombang panas ekstrem bahkan telah memicu ribuan korban jiwa di Eropa.
“Kondisi global menjadi pengingat bagi kita agar tidak menganggap remeh fenomena ini. Kutai Timur berpotensi mengalami musim kering yang sangat tinggi. Kita harus siap,” tegas Ardiansyah.
Untuk itu, Bupati langsung memetakan instruksi taktis ke berbagai sektor krusial. PDAM diperintahkan mencari sumber air alternatif dan memanfaatkan embung secara maksimal untuk mengantisipasi penurunan drastis debit air Sungai Sangatta.
Sementara Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan bersama Dinas Ketahanan Pangan wajib menyusun penyesuaian pola tanam darurat akibat keterbatasan air. Sedangkan Dinas Perdagangan diminta mempercepat kerja sama dengan daerah penghasil untuk menjamin pasokan sembako aman jika jalur distribusi terganggu.
Tidak hanya mengandalkan kebijakan makro, orang nomor satu di Pemkab Kutim ini juga memerintahkan para Camat hingga Kepala Desa untuk menggerakkan masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah mereka melalui sistem hidroponik maupun integrated farming.
“Manfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai, kangkung, bayam, maupun sayuran lainnya. Ketahanan pangan keluarga adalah benteng pertama kita,” cetus Bupati.
Dari sisi makro ekonomi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kutim, Noviari Noor, memaparkan bahwa inflasi Kutim hingga Juni 2026 sebenarnya masih relatif jinak bahkan sempat menyentuh angka minus (deflasi). Namun, ancaman El Nino di depan mata berpotensi mengacaukan stabilitas harga tersebut jika tidak diredam sejak dini.
Berdasarkan prediksi BMKG, Agustus hingga September akan menjadi bulan-bulan paling kritis bagi Kutim. Menjawab tantangan tersebut, TPID Kutim langsung mengunci 9 langkah konkret pertahanan daerah:
| Program Aksi TPID Kutim (Januari – Juni 2026) | Frekuensi Eksekusi |
| Gerakan Pangan Murah (GPM) Sangatta | 2 Kali |
| Operasi Pasar Murah Sembako di Kecamatan | 6 Kali |
| Operasi Pasar LPG 3 Kilogram | 17 Kali |
| Monitoring Harga Pasar & Distributor | 6 Kali |
| Inspeksi Pasar, Agen, & SPBU Menjelang HBKN | Rutin Berkelanjutan |
Selain penguatan pangan dan pasar murah, pemerintah daerah juga mengaktifkan Belanja Tidak Terduga (BTT), berencana membentuk Kios/Warung Inflasi, serta memperketat sektor kesehatan guna mengantisipasi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat pemburukan kualitas udara selama kemarau.


Tinggalkan Balasan