Sangatta News — Sebanyak 396 mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) resmi diterjunkan untuk mengabdi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) selama 40 hari ke depan. Kedatangan pasukan pengabdi dari kampus unggulan Kalimantan Timur ini disambut langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, di Ruang Meranti, Kantor Bupati, Sangatta, Senin (13/7/2026).

Mengusung misi besar mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) desa, ratusan mahasiswa ini akan tersebar di 41 desa dan kelurahan yang mencakup 13 kecamatan di seluruh wilayah Kutim.

Bupati Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa KKN bukan sekadar ritual akademik untuk menggugur kewajiban atau mencari nilai. KKN adalah implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus membawa perubahan instan bagi produktivitas warga desa.

Bupati menantang para mahasiswa untuk melahirkan inovasi yang berkelanjutan, salah satunya lewat pendampingan sektor riil. “Jangan hanya datang, menjalankan program, lalu pulang. Tinggalkan jejak pengabdian yang benar-benar dirasakan masyarakat. Keterbatasan disiplin ilmu bukan penghalang. Pelajari persoalan di lapangan, berdiskusilah. Berikan penyuluhan sederhana kepada petani, termasuk bagaimana teknik budidaya tanaman kakao agar usaha mereka lebih produktif,” tegas Ardiansyah.

Di hadapan para mahasiswa, Bupati Ardiansyah dengan bangga memperkenalkan Kutai Timur sebagai kawasan “Magic Land” karena kelengkapan kekayaan sumber daya alamnya yang luar biasa.

Kutim tercatat memiliki garis pantai hampir 500 kilometer, kawasan mangrove yang masif, kekayaan tambang, hingga lahan pertanian dan perkebunan yang sangat subur. Namun, Ardiansyah mengingatkan bahwa kekayaan ini wajib dikelola secara seimbang antara ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Selain kekayaan alam hayati, fokus KKN Unmul tahun 2026 ini juga diarahkan untuk mengawal isu strategis daerah. Mahasiswa diminta ikut memperkuat posisi kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang sedang dalam proses verifikasi bertaraf internasional karena nilai geologi, hayati, dan budayanya yang tinggi. Selain itu, menjadikan keterlibatan mahasiswa sebagai motor penggerak kesadaran ekologi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat tapak (desa).

Agar pergerakan mahasiswa di lapangan tidak bias, Ketua Panitia KKN Kolaborasi Unmul, Kiswanto, menjelaskan bahwa skema pengabdian tahun ini telah dikunci ke dalam konsep yang sangat sistematis. Setiap kelompok mahasiswa dibekali target yang jelas agar dampaknya dapat diukur oleh Pemkab Kutim.

“KKN Kolaborasi ini kami desain agar benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat. Mahasiswa akan menjalankan 28 program prioritas, yang dibagi menjadi tiga program utama pada setiap kelompok. Salah satu fokus utama kami tahun ini adalah mendukung penuh pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat,” pungkas Kiswanto.

Lewat sinergi matang antara pemikiran kritis kampus dan eksekusi taktis di lapangan, KKN Unmul 2026 di Kutai Timur ini bersiap menjadi barometer baru kolaborasi akademisi-pemerintah dalam mendongkrak indeks kemandirian desa di gerbang penyangga Nusantara.