Sangatta News — Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dipastikan berjalan kondusif dan lancar. Mengacu pada Surat Edaran Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen Nomor 12 Tahun 2025, pelaksanaan MPLS tahun ini secara radikal menggeser fokus dari sekadar formalitas menjadi penguatan karakter dasar siswa.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, mengungkapkan bahwa salah satu agenda wajib dalam MPLS kali ini adalah internalisasi “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” kepada seluruh peserta didik baru, di samping pengenalan ekosistem fisik dan sosial sekolah.
Bukan rahasia lagi jika Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selalu diwarnai riak di tengah masyarakat. Namun, Mulyono menegaskan pihaknya tahun ini bergerak cepat melakukan mitigasi taktis sebelum masalah di lapangan membesar.
“Sesuatu proses penerimaan siswa baru pasti ada masalah, tetapi yang terpenting adalah bagaimana upaya kita untuk meminimalisir atau mengurangi masalah tersebut. Alhamdulillah, untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP di Kutim tidak ada masalah, semuanya berjalan dengan clear,” tegas Mulyono.
Dua langkah kunci yang berhasil meredam kendala PPDB tahun ini meliputi kehadiranPosko Pengaduan Terintegrasi. Disdikbud mendirikan posko khusus ini untuk mengurai masalah pendaftaran daring, sengketa zonasi/domisili, hingga administrasi secara real-time.
Sebelum pengumuman resmi, Disdikbud mengumpulkan seluruh kepala sekolah SD dan SMP—khususnya di wilayah padat Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Sekolah yang kelebihan pendaftar langsung didistribusikan ke sekolah terdekat yang kekurangan kuota, sehingga orang tua tidak telantar dan bingung.
Di sisi lain, Bunda PAUD Kutim, Siti Robiah, memberikan catatan kritis sekaligus menyentuh bagi seluruh civitas akademika di Kutim. Istri dari Bupati Ardiansyah Sulaiman ini meminta sekolah bertransformasi penuh menjadi rumah kedua yang aman, inklusif, serta memuliakan hak-hak anak.
Siti Robiah secara tegas melarang adanya tekanan calistung (baca, tulis, hitung) yang agresif di awal masa sekolah: “Fokuslah pada transisi yang mulus dari rumah ke sekolah agar anak merasa dihargai. Kenalkan lingkungan sekolah lewat bermain dan bernyanyi, termasuk dasar-dasar bersosialisasi dan karakter baik tanpa ada paksaan akademis yang memberatkan anak. Hadirkan sekolah yang bebas dari kekerasan dan perundungan (bullying),” pinta Siti Robiah.
Dalam kesempatan yang sama, Siti Robiah juga memberikan apresiasi tertinggi kepada para orang tua murid di Kutim yang dinilai semakin sadar akan pentingnya pendidikan usia dini. Kesadaran ini dibuktikan dengan suksesnya transisi gerakan Wajib Belajar 13 Tahun, di mana mayoritas orang tua kini tertib mendaftarkan anak mereka ke satuan PAUD terlebih dahulu sebelum melompat ke jenjang Sekolah Dasar (SD).
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa suksesnya pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan sinergi positif antara guru di sekolah dan orang tua di rumah yang mendampingi anak dengan penuh kesabaran.


Tinggalkan Balasan