Sangatta News — Anggapan miring yang menyebut perempuan sebagai kaum yang lemah, tidak mampu bekerja di lapangan, serta hanya menjadi ornamen pelengkap dalam roda pembangunan resmi digugat di Kutai Timur (Kutim). Melalui sebuah gerakan kolaboratif, kaum perempuan di Kutim kini didorong secara radikal untuk keluar dari zona domestik dan mengambil alih peran penting di sektor makro, termasuk pertanian dan perkebunan kelapa sawit.
Komitmen besar ini digaungkan dalam Lokakarya Kemandirian Perempuan Bidang Politik, Sosial, dan Ekonomi yang digelar di Ruang Damar, Gedung Serba Guna (GSG) Bukit Pelangi, Sangatta, Kamis (25/6/2026).
Agenda strategis bertajuk “Jadilah Perempuan Mandiri dan Berdaya” ini diinisiasi oleh Forum Multi Pihak Pembangunan Berkelanjutan (Formika) Kutim, hasil perkawinan program antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutim dengan lembaga internasional, Solidaridad Indonesia.
Ketua Harian Formika Kutim, Sudirman Latief, dengan lantang membakar semangat ratusan perwakilan organisasi perempuan yang memadati ruangan. Ia menegaskan, sudah saatnya sekat dan batasan gender di Kutim diruntuhkan total demi membuka peluang yang setara dengan kaum laki-laki.
Sudirman mematahkan stereotipe lama yang menilai perempuan tidak sanggup menghadapi kerasnya pekerjaan lapangan, khususnya di sektor hulu yang menjadi motor ekonomi Kutim.
“Motivasi kita hari ini adalah membalikkan stigma. Kalau selama ini ada yang bilang perempuan itu lemah, tidak bisa turun ke lapangan—khususnya di sektor pertanian dan perkebunan—ternyata itu salah besar! Perempuan sangat mampu. Kalau pola pikir (mindset) kita ubah, maka insyaallah akan lahir perempuan-perempuan yang tangguh,” tegas Sudirman memotivasi.
Lebih jauh, ia memaparkan bahwa keterlibatan aktif kaum perempuan di sektor produktif bukan sekadar isu sosial, melainkan memiliki nilai tawar ekonomi yang sangat tinggi. Jika potensi ini dikelola dengan profesional, kemandirian ekonomi perempuan diproyeksikan mampu menjadi mesin baru dalam mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kutai Timur.
Lokakarya yang berlangsung sehari efektif ini didesain sebagai ruang pembekalan instensif. Tak tanggung-tanggung, Formika menghadirkan para pakar berkompeten, mulai dari tim Pusat Studi Gender (PSG) Universitas Mulawarman (Unmul) hingga Kepala DP3A Kutim, Idham Cholid.
Kehadiran para narasumber ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman baru bahwa perempuan memiliki hak sejarah untuk berdiri sebagai tulang punggung kemandirian daerah. Langkah ini dinilai sangat selaras dengan visi-misi besar Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, yaitu membangun daerah yang maju, inklusif, dan bersih dari segala bentuk diskriminasi gender.
Melalui lokakarya ini, Formika bersama DP3A Kutim dan Solidaridad Indonesia berharap output kegiatan tidak menguap begitu saja, melainkan melahirkan cetak biru (blueprint) aksi nyata di lapangan. Targetnya jelas: memastikan perempuan Kutim berani tampil di garis depan, baik dalam panggung politik, pergerakan sosial, maupun penggerak utama ekonomi hijau berkelanjutan.


Tinggalkan Balasan