Sangatta News – Di saat sebagian besar wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memasuki tren cuaca dengan intensitas hujan rendah, sebagian kecil wilayah di Kabupaten Kutai Timur bagian barat justru diprediksi tetap mengalami sifat hujan kategori Normal (85-115%).

Kondisi berbeda ini menjadikan wilayah barat Kutai Timur bersama Berau bagian barat sebagai area yang perlu perhatian ekstra, mengingat sifat hujannya yang lebih tinggi dibandingkan wilayah tetangga lainnya yang sudah memasuki kategori Bawah Normal.

Berdasarkan rilis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Provinsi Kaltim secara umum akan didominasi curah hujan kategori Menengah (50–150 mm) pada periode 21-31 Januari 2026.

“Peluang terjadinya hujan kategori menengah ini mencapai lebih dari 80%,” jelas Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, dalam keterangan resminya, Kamis (22/1/2026).

Tren Hari Tanpa Hujan (HTH)

Meski curah hujan diprediksi menengah, BMKG mencatat bahwa Kaltim mulai merasakan fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi bervariasi. Kategori sangat pendek  berlangsung selama 1 hingga 5 hari, kategori pendek berlangsung selama 6 hingga 10 hari serta HTH terpanjang yang saat ini tercatat berada di Kecamatan Muara Komam (Paser) dengan durasi mencapai 9 hari tanpa hujan.

Riza menambahkan adanya perbedaan signifikan untuk wilayah pesisir timur hingga selatan Kaltim. Wilayah-wilayah tersebut diprediksi akan mengalami curah hujan kategori Rendah (0-50 mm) dengan peluang kejadian di atas 60%.

Secara deterministik, curah hujan pada Dasarian III Januari 2026 menunjukkan sebagian besar Kaltim akan bergerak di angka 20-50 mm (Rendah) hingga 50-100 mm (Menengah).

Masyarakat, khususnya di wilayah Kutai Timur bagian barat, diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan mendadak, sementara wilayah pesisir timur perlu mulai mengantisipasi dampak dari berkurangnya intensitas hujan di akhir bulan ini.