Sangatta News – Di tengah bentangan wilayah yang didominasi konsesi tambang dan perkebunan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyimpan ambisi besar yakni mencapai kemandirian pangan. Meskipun produksi beras lokal saat ini baru mampu memenuhi seperempat kebutuhan daerah, Pemkab berhasil menggenjot produktivitas lahan secara signifikan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengungkapkan keberhasilan peningkatan hasil panen berkat optimalisasi pola tanam dan irigasi. “Kalau dulu hasil panen padi rata-rata hanya 3,9 sampai 4 ton per hektare, sekarang sudah meningkat menjadi 5 hingga 7 ton per hektare, tergantung kondisi irigasi dan lahan,” ujar Dyah, Rabu (12/11/2025).
Meskipun produktivitas per hektare melonjak, Kutim masih menghadapi defisit pangan yang besar. Dari total produksi gabah kering panen sebesar 13.000 ton (setara 7.500 ton beras) per tahun dari 2.638 hektare lahan, Kutim masih kekurangan 25.000 hingga 28.000 ton beras untuk memenuhi total kebutuhan masyarakat yang mencapai 35.000 ton per tahun.
Untuk mengatasi jurang defisit ini, Pemda kini mengambil langkah berani mengajukan kajian alih fungsi lahan di kawasan khusus. “Ada beberapa lokasi yang sebenarnya sangat potensial untuk pertanian, tapi masih berstatus kawasan khusus, seperti hutan lindung atau lahan konsesi perusahaan. Saat ini sedang dikaji oleh tim teknis dan akan dimohonkan kepada kementerian terkait,” jelas Dyah.
Langkah ini ditekankan akan dilakukan dengan sangat hati-hati, memastikan kepatuhan terhadap aturan tata ruang dan kelestarian lingkungan.
Selain masalah lahan, ketersediaan air dan jaringan irigasi menjadi penentu utama. Wilayah dengan irigasi baik seperti Kaubun, Kombeng, dan Long Mesangat kini mampu menanam hingga tiga kali setahun. Sebaliknya, kawasan tadah hujan seperti Sangatta Selatan dan Bengalon hanya bisa tanam dua kali.
Dyah menegaskan bahwa koordinasi intensif dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) menjadi kunci. “Jaringan irigasi menjadi kunci utama. Air menentukan produktivitas,” tambahnya.
Dengan semangat petani yang tinggi, dukungan lintas sektor, dan komitmen Pemda untuk membuka akses lahan baru, Dyah optimis Kutim mampu menekan ketergantungan terhadap beras luar daerah dan menuju kedaulatan pangan lokal dalam waktu dekat.


Tinggalkan Balasan