Sangatta News – Riak kegelisahan mulai terasa di pasar-pasar Sangatta. Rak-rak minyak goreng yang biasanya penuh, kini mulai tampak menipis. Merespons situasi tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur (Kutim) langsung bergerak cepat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah distributor besar, Rabu (13/6/2026).

Tim monitoring menyisir gudang-gudang utama seperti Top 88, Toko Merdeka, hingga Pulau Mas untuk memastikan pasokan komoditas strategis tetap aman di tengah isu keterlambatan distribusi.

Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan fakta mengejutkan. Beberapa merek minyak goreng premium, terutama Bimoli, mulai sulit ditemukan. Di distributor Top 88, stok yang tersisa hanya kemasan kecil seperti Saro dan Rose Brand.

“Pemesanan sudah dilakukan sejak sebelum Lebaran, tapi barang belum kunjung datang selama sebulan terakhir,” ungkap pengelola distributor. Sementara di Pulau Mas, minyak goreng bak barang gaib; baru tiba di gudang langsung ludes diborong pembeli.

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani melalui Kabid Industri Achmad Donny Erviady, mengungkapkan bahwa kendala utama bukan pada stok nasional, melainkan pada biaya logistik. “Distributor mengeluhkan ongkos angkut yang naik cukup tinggi dari luar daerah. Inilah yang membuat pasokan masuk lebih lambat dari biasanya,” jelas Donny.

Kondisi ini juga merembet ke komoditas lain seperti mi instan dan telur ayam. Untuk telur, Kutim masih mengalami defisit besar. Produksi peternak lokal hanya mampu menyuplai 147 ton per bulan, sementara kebutuhan masyarakat mencapai 470 ton. Artinya, Kutim masih sangat bergantung pada “kiriman” dari luar wilayah.

Menyikapi hal ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kutim menyiapkan serangkaian “senjata” untuk menjaga stabilitas harga seperti Gerakan Pasar Murah (GPM) dan optimalisasi WARTEK, Warung Tekan Inflasi akan terus disuplai barang. Pemerintah membuka peluang menyubsidi biaya distribusi dari luar daerah jika kondisi semakin mendesak.

Disperindag menegaskan, Kutim tidak boleh selamanya bergantung pada daerah lain. Solusi permanen yang tengah didorong adalah memperkuat produksi pangan lokal, seperti pengembangan peternakan ayam petelur.

Selain itu, sebagai daerah penghasil sawit, Pemkab Kutim mendorong hilirisasi kelapa sawit agar industri minyak goreng lokal bisa berdiri sendiri di masa depan. “Masyarakat tidak perlu panik. Stok sebenarnya masih ada, hanya beberapa merek tertentu yang terbatas. Kami pastikan pengawasan terus berjalan,” jelas Donny.