Sangatta News – Ruang Arau di Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) Selasa (28/10/2025) menjadi panggung bagi kisah-kisah yang tersimpan lama di pedalaman. Sejumlah tokoh adat Suku Darat Basap dari Kecamatan Kaliorang hadir, bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa jeritan kejujuran dari tanah leluhur mereka yang merasa kian terpinggirkan.

Kehadiran mereka, difasilitasi oleh Lembaga Adat Istiadat Masyarakat Suku Darat Basap, menyoroti realitas pahit yang mereka hadapi yakni keterbatasan akut pada fasilitas dasar dan ancaman kepunahan budaya.

Ridwan, anggota Dewan Adat Istiadat Suku Darat Basap, membuka percakapan dengan nada lirih namun mendalam, menggambarkan betapa sulitnya kehidupan di tengah hutan yang terus menyusut. “Kami hidup dengan kondisi serba terbatas. Air bersih sangat sulit didapat. Selama puluhan tahun kami hanya menggunakan air sumur yang kualitasnya kurang baik. Hutan di sekitar tempat tinggal kami juga sudah banyak hilang,” ungkapnya.

Keterbatasan ini diperparah di sektor pendidikan dan kesehatan. Asmuni, anggota Dewan Adat lainnya, menyuarakan masalah krusial. “Sekolah memang ada, tapi gurunya tidak ada. Banyak anak-anak Basap yang akhirnya putus sekolah karena tidak ada guru yang menetap.” Kondisi ini seolah menghentikan masa depan generasi muda Basap di persimpangan antara mimpi dan kenyataan.

Menyelamatkan Kulit Kayu Jongkok

Di tengah perjuangan hidup, Suku Basap juga berjuang mempertahankan nyala tradisi leluhur. Lamat, Ketua Seksi Adat dan Kebudayaan, menyinggung warisan khas mereka, baju kebesaran dari kulit kayu jongkok, sebuah simbol kebanggaan yang kini nyaris hanya tersisa dalam ingatan.

“Upacara adat Basap harus tetap dilanjutkan agar anak cucu tahu asal-usul dan menghargai leluhur mereka. Namun selama ini belum ada pembinaan atau dukungan untuk pelestarian budaya,” ujarnya, memohon adanya pelatihan pembuatan baju dari kulit kayu jongkok agar tradisi ini tidak punah dimakan zaman.

Momen haru terjadi saat Ervita Dwi Astuti, seorang relawan yang telah lama mendampingi masyarakat Basap, turut menyuarakan hati mereka. “Mereka tidak menuntut banyak, hanya ingin diperhatikan. Walaupun kami tidak sedarah, tapi saya sudah menganggap mereka seperti keluarga,” kata Ervita dengan nada bergetar.

Menuju Kampung Adat Basap Berbasis Wisata

Bupati Kutim, H. Ardiansyah Sulaiman, menyimak dengan seksama. Ia menyampaikan apresiasi atas kejujuran dan keberanian masyarakat adat dalam menyuarakan haknya, dan berjanji akan menindaklanjuti secara serius. “Pemerintah akan menindaklanjuti dengan membuat kajian terkait rencana pembentukan Kampung Adat Orang Darat Basap,” tegas Ardiansyah.

Pembentukan kampung adat ini dilihat sebagai solusi multifungsi, tidak hanya sebagai upaya pelestarian budaya dan pemberian legitimasi hukum kepada Lembaga Adat, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan ekonomi dan pengembangan wisata berbasis budaya. Kajian akan mencakup kebutuhan lahan pertanian, perumahan, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Pertemuan itu diakhiri dengan harapan baru. Dari pedalaman Kaliorang, suara kecil yang menuntut perhatian kini menggema hingga pusat pemerintahan, membawa janji bahwa tanah dan tradisi mereka tidak akan lagi terpinggirkan.