Sangatta News – Bupati Kutai Timur (Kutim), H Ardiansyah Sulaiman, menegaskan komitmennya untuk mempertahankan 50 program prioritas yang merupakan janji politiknya kepada rakyat meski Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kutim tahun 2025 mengalami pemotongan signifikan dari pemerintah pusat.

Dari APBD awal sebesar Rp11 triliun, anggaran Kutim anjlok menjadi sekitar Rp4,8 triliun. Namun, Bupati menegaskan program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat harus tetap dijalankan.

“50 program ini adalah janji saya kepada masyarakat. Tidak boleh ada yang terhenti meskipun anggaran kita dipotong dari pusat. Karena semua program itu menyentuh langsung kebutuhan masyarakat di berbagai bidang,” tegas Ardiansyah saat melantik Kepala Desa Antarwaktu Desa Sepaso Selatan, Senin (3/11/2025).

Bupati menyampaikan bahwa ia sudah menginstruksikan DPRD dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk menjaga agar 50 program unggulan tersebut, yang mencakup infrastruktur, pendidikan, hingga pemberdayaan masyarakat, tidak terkena imbas pemangkasan.

Bantah Isu Dana Mengendap

Di hadapan masyarakat Bengalon, Bupati juga mengingatkan kembali pentingnya program Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKK Desa) yang telah ditingkatkan dari Rp50 juta menjadi Rp250 juta per RT.

“Ini uang besar, Rp 250 juta per RT. Gunakan dengan baik dan transparan, sesuai panduan yang ada di Peraturan Bupati. Jangan sampai disalahgunakan, karena tujuannya untuk masyarakat, bukan proyek,” serunya, menekankan bahwa dana ini bertujuan mengurangi kesenjangan dan menekan angka kemiskinan.

Lebih lanjut, Ardiansyah turut meluruskan isu nasional mengenai adanya dana sebesar Rp1,7 triliun di Kutim yang disebut Kementerian Keuangan sebagai dana mengendap. Menurut bupati, dana tersebut bukan disimpan untuk mendapatkan bunga atau deposito. Uang tersebut adalah kas daerah yang belum dibelanjakan karena masih menunggu progres pekerjaan di lapangan. Pembayaran baru dilakukan setelah pekerjaan selesai.

Ardiansyah menilai, isu dana mengendap seringkali “digoreng setengah matang” oleh pihak yang tidak memahami mekanisme keuangan daerah, yang berpotensi menimbulkan persepsi keliru dan fitnah di tengah masyarakat.

Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh aparatur dan masyarakat untuk mendukung program pembangunan daerah, dengan target ambisius, “Mudah-mudahan tiga tahun ke depan, 80 persen masalah kemiskinan di tingkat RT bisa kita selesaikan. Kita ingin Kutim benar-benar menjadi daerah yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.”