Sangatta News – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, memberikan instruksi tegas kepada seluruh pemerintah desa untuk segera melakukan pendataan dan pemetaan potensi lahan pertanian secara total. Langkah ini dinilai sebagai kunci krusial untuk mengakhiri “paradoks wilayah” yang selama ini dialami Kutim yakni memiliki bentang alam yang luas, namun daya ungkit sektor pangannya belum maksimal.
Bupati menegaskan bahwa tanpa data lahan sawah dan padi kering yang akurat hingga tingkat desa, pemerintah daerah seperti berjalan di dalam kabut saat merancang kebijakan.
Dalam arahannya, Ardiansyah secara terbuka membandingkan kondisi Kutai Timur dengan daerah tetangga. Ia mencontohkan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang meski secara geografis lebih sempit, memiliki catatan data pertanian yang jauh lebih sistematis.
“Kukar memiliki total tanaman padi sawah dan kering mencapai sekitar 21 ribu hektare. Kita ini wilayahnya jauh lebih luas, tapi belum bisa menyamai itu. Artinya, ada potensi besar yang belum kita garap secara serius karena data kita belum jelas,” ujar Ardiansyah.
Menurutnya, inventarisasi lahan tahun ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan fondasi untuk menentukan alokasi anggaran, perencanaan kegiatan, hingga distribusi bantuan agar benar-benar tepat sasaran.
Mendorong Petani Milenial dan Mekanisasi
Selain persoalan data, Ardiansyah juga menyoroti pentingnya regenerasi petani. Ia mengajak generasi muda di Kutim untuk tidak lagi memandang sektor pertanian sebagai pekerjaan konvensional yang tertinggal.
“Petani milenial sekarang harus berani turun ke lapangan. Dengan dukungan teknologi, mekanisasi, dan mesin pertanian, mengelola lahan luas kini jauh lebih efisien dengan pendapatan yang sangat menjanjikan,” ajaknya optimis.
Sebagai bentuk diversifikasi ekonomi pedesaan, Pemkab Kutim juga memperkuat sektor peternakan melalui kolaborasi strategis dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Ardiansyah memastikan bahwa bantuan ternak akan terus mengalir untuk memperkuat penghasilan petani di luar tanaman pangan.
“Saya sudah berkomunikasi dengan Ketua Baznas, mereka siap mengirim 100 ekor domba lagi. Kelompok tani silakan siapkan data dan kandangnya. Melalui Baznas, proses penyaluran bisa jauh lebih cepat dibandingkan birokrasi biasa,” jelas Bupati.
Bagi Pemkab Kutim, kedaulatan pangan bukan sekadar slogan, melainkan kerja keras yang dimulai dari validasi data di lapangan. Peta lahan yang akurat diharapkan menjadi kompas bagi kemandirian pangan daerah, memastikan Kutai Timur tidak hanya menjadi penonton di atas tanahnya yang luas, tetapi menjadi produsen utama yang berdaya saing.


Tinggalkan Balasan