Sangatta News – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan kondisi ekonomi daerah menjelang pertengahan Maret 2026 dalam kondisi prima. Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengungkapkan bahwa angka inflasi di Kutim saat ini masih sangat terkendali, yakni berada di kisaran 0,20 hingga 0,22 persen.
Hal tersebut disampaikan Bupati dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang berlangsung di ruang rapat Diskominfo Staper Kutim, Senin (16/3/2026). Menurut Ardiansyah, angka ini merupakan sinyal positif bahwa daya beli masyarakat lokal tetap kuat dan stabil.
Meski secara umum stabil, Bupati mencatat ada sekitar tiga hingga empat komoditas yang harganya mulai merangkak naik di atas standar normal, terutama cabai dan daging ayam ras. Namun, ia optimis sektor pertanian lokal, khususnya dari wilayah pegunungan, mampu menjadi bumper untuk menjaga ketersediaan stok.
“Pertanian kita memberikan dukungan yang luar biasa terhadap ketersediaan pangan. Namun, kita akui beberapa kebutuhan seperti beras, daging sapi, dan ayam sebagian masih bergantung pada pasokan dari Sulawesi dan Jawa,” ujar Ardiansyah.
Sebagai langkah antisipasi lonjakan harga yang lebih tinggi, Pemkab Kutim telah menyiapkan skema intervensi melalui operasi pasar murah. Tak hanya itu, Bupati Ardiansyah mengusulkan sebuah program inovatif bertajuk “Champion Komoditas”.
Program ini nantinya akan melibatkan Dinas Pertanian untuk memantau indeks perkembangan harga setiap komoditas strategis secara spesifik dan real-time. “Dengan adanya champion komoditas ini, pemerintah bisa mendapatkan data yang lebih terukur sehingga kebijakan pengendalian harga bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” tegasnya.
Selain urusan harga, rapat koordinasi ini juga menyoroti aspek perlindungan konsumen melalui sertifikasi halal. Bupati menekankan agar perangkat daerah terkait segera memfasilitasi para pedagang dan pelaku usaha jasa makanan untuk mendapatkan sertifikat halal dengan proses yang lebih mudah dan cepat.
Rapat ini dihadiri oleh jajaran perangkat daerah terkait sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi di seluruh wilayah Kutai Timur.


Tinggalkan Balasan