Sanggata News – Persoalan sampah plastik yang selama ini menghantui Kabupaten Kutai Timur (Kutim), khususnya wilayah Sangatta, mulai menemui titik terang. Bukan sekadar dibuang, sampah plastik kini dibidik menjadi produk bernilai ekonomi lewat sinergi strategis antara raksasa pertambangan PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan komunitas pemuda Odah Etam.

Langkah nyata ini mendapat restu penuh dari Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, dalam audiensi yang berlangsung di ruang kerjanya pada Kamis (26/3/2026).

Yang bikin kolaborasi ini beda dari gerakan lingkungan biasa adalah visi ekonomi sirkular yang diusung. Komunitas Odah Etam tidak hanya berhenti di tahap mengumpulkan atau mencacah sampah plastik, tapi berkomitmen mengolahnya hingga menjadi produk jadi yang punya nilai guna dan nilai jual.

Bupati Ardiansyah Sulaiman menegaskan dukungannya agar inovasi ini tidak hangat-hangat tahi ayam. “Pemerintah daerah mendukung penuh dan berharap program ini berjalan berkelanjutan, tidak berhenti di tengah jalan,” tegasnya.

Superintendent Local Business Development KPC, Faizal, menekankan bahwa peran anak muda adalah kunci. KPC melihat potensi besar di mana kreativitas pemuda bisa menjawab isu lingkungan sekaligus membuka peluang bisnis lokal.

“Kami berharap teman-teman muda ini menghadirkan program yang tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi,” ujar Faizal.

Demi mematangkan konsep, Founder Odah Etam, Ibnu Mahaddhir, membeberkan rencana besar mereka pada April mendatang. Tim Odah Etam akan terbang ke Buleleng, Bali, untuk melakukan studi banding di Rumah Plastik.

“Kami ingin belajar langsung dari pengalaman di sana. Bukan sekadar meniru, tapi mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kondisi unik di Kutai Timur,” jelas Ibnu.

Tahun ini, Odah Etam memang sengaja memfokuskan “radar” mereka pada isu lingkungan di Sangatta. Mereka ingin membuktikan bahwa limbah yang dianggap kotor bisa berubah menjadi berkah jika dikelola dengan tangan yang tepat.