Sangatta News – Balai Pertemuan Dusun Rindang Benua menjadi saksi bisu lahirnya komitmen baru untuk masa depan pariwisata Kutai Timur. Di ruang sederhana tersebut, Pemerintah Provinsi Kaltim, Pemkab Kutim, Balai Taman Nasional Kutai (TNK), hingga PT Kaltim Prima Coal (KPC) duduk bersama masyarakat untuk satu tujuan, menyulap Rindang Benua menjadi desa wisata berbasis budaya yang mandiri dan berdaya saing.
Forum diskusi ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan langkah konkret untuk mengeksekusi mandat Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 38 Tahun 2025. Sebuah regulasi yang menjadi “karpet merah” bagi percepatan ekonomi pedesaan melalui potensi lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, Ririn Sari Dewi, memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi apik yang terjalin. Menurutnya, keterlibatan aktif PT KPC dalam mengawal pengembangan desa wisata di Kutim adalah model kemitraan yang ideal untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Hal ini diharapkan mampu mengoptimalkan peran desa wisata berbasis budaya di Rindang Benua. Target kita jelas: statusnya harus meningkat dari desa wisata berkembang menjadi Desa Wisata Maju,” tegas Ririn di hadapan para tokoh adat dan warga.
Keunikan Rindang Benua terletak pada letak geografisnya yang bersinggungan dengan kawasan Taman Nasional Kutai (TNK). Oleh karena itu, kehadiran perwakilan Balai TNK dalam forum ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata tetap berjalan selaras dengan upaya konservasi alam.
Ketua Panitia Pembangunan Lamin Adat, Alan Djiu, bersama Kepala Dusun Sekimin, tampak antusias memaparkan potensi budaya Dayak yang menjadi “ruh” dari Rindang Benua. Dengan adanya dukungan regulasi dan pendampingan dari KPC, warga optimis pembangunan Lamin Adat dan fasilitas pendukung lainnya akan lebih terarah.
Pengembangan desa wisata ini bukan hanya soal keindahan visual, tetapi tentang perut masyarakat. Melalui implementasi Pergub 38/2025, diharapkan terbuka kesempatan kerja baru mulai dari pemandu wisata, pengelolaan homestay, hingga pemberdayaan UMKM kerajinan khas lokal.
“Kami ingin potensi lokal dioptimalkan secara sistematis. Rindang Benua punya modal budaya yang kuat, tinggal bagaimana kita mengemasnya secara profesional agar menarik bagi wisatawan mancanegara maupun domestik,” tambah Ririn.


Tinggalkan Balasan