Sangatta News — Isu stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini didekati dengan cara yang lebih mendasar lewat penguatan pola asuh dan karakter. Bunda PAUD Kutim, Ny. Siti Robiah Ardiansyah, menegaskan bahwa pemenuhan gizi saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan perilaku hidup sehat sejak dini.

Pernyataan ini disampaikannya dalam sosialisasi Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) di Hotel Royal Victoria, Rabu (4/2/2026). Program ini dipandang sebagai instrumen kunci untuk mencetak generasi yang sehat secara fisik sekaligus berkarakter kuat.

Dalam arahannya, Ny Siti Robiah mematahkan stigma bahwa stunting hanya terjadi pada keluarga dengan ekonomi rendah. Ia mengingatkan bahwa pola hidup yang salah bisa membuat siapa pun rentan terkena stunting.

“Perlu diingat, stunting tidak hanya menyasar mereka yang lemah secara ekonomi, tetapi juga terjadi pada masyarakat ekonomi menengah ke atas. Makan bergizi itu penting, namun perubahan perilaku dan pola hidup sehat memberikan dampak yang jauh lebih serius untuk terhindar dari stunting,” tegas Siti Robiah.

Istri orang nomor satu di Kutai Timur ini menyoroti peran strategis para guru PAUD dalam membantu anak-anak mengadopsi 7 kebiasaan hebat (mulai dari bangun pagi hingga tidur tepat waktu). Menurutnya, kedisiplinan yang diajarkan di sekolah akan menjadi parameter keberhasilan tumbuh kembang anak.

“Dari tujuh komponen G7KAIH, semuanya adalah parameter penting untuk mengubah perilaku anak. Mereka belajar disiplin secara bertahap, dan guru adalah sosok yang memiliki peran sentral dalam membiasakan hal tersebut,” imbuhnya.

Pencegahan stunting di Kutim kini diarahkan pada intervensi dari berbagai sisi, mencakup pemenuhan gizi seimbang dengan fokus pada apa yang dikonsumsi anak. Juga aktivitas fisik dan istirahat terutama kebiasaan berolahraga dan tidur yang cukup serta pola asuh konsisten berkolaborasi aktif antara orang tua di rumah dan guru di sekolah.

Ia menutup sambutannya dengan harapan agar gerakan G7KAIH ini tidak berhenti sebagai seremonial, melainkan menjadi komitmen nyata pemerintah daerah dalam membangun generasi yang cerdas dan berdaya saing.

“Dengan pola asuh yang konsisten, kita tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga menyentuh perubahan perilaku yang berkelanjutan di lingkungan keluarga dan sekolah,” tambahnya.