Sangatta News – Revitalisasi fasilitas Pasar Induk Sangatta, Kutai Timur belum mampu mengembalikan geliat ekonomi pedagang sandang. Meski gedung utama telah dilengkapi parkir gratis, kebersihan terjaga, dan ruang usaha mudah diakses, mayoritas pedagang pakaian dan aksesoris justru mengalami penurunan omzet signifikan akibat pergeseran perilaku belanja masyarakat ke platform online.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Induk Sangatta, Bohari, mengungkapkan bahwa dari total 147 kios di gedung utama, hanya 97 yang masih beroperasi. Sebagian besar pedagang sandang kini berada dalam tekanan berat hingga kesulitan membayar retribusi bulanan. “Kadang ada yang tidak laku sama sekali. Untung sedikit pun habis untuk makan. Soal retribusi, kita kasihan sebenarnya, tapi angka itu sudah jadi kebijakan,” kata Bohari.
Ia menegaskan bahwa masalah utama bukan pada fasilitas pasar, tetapi perubahan kebiasaan belanja. Konsumen kini cenderung membeli pakaian, sepatu, dan aksesori melalui e-commerce yang dianggap lebih praktis dan variatif. “Masyarakat sekarang banyak pilihannya lewat online. Ini tantangan terbesar bagi gedung utama,” ujarnya.
Berbeda dengan pedagang sandang, sektor pasar basah seperti ikan, ayam, dan sembako masih menunjukkan stabilitas penjualan. Arus kunjungan warga pun lebih terkonsentrasi di area tersebut.
Upaya UPT menghadirkan berbagai event dalam gedung untuk meningkatkan kunjungan belum memberikan dampak signifikan, kecuali pada momentum besar seperti Lebaran dan Natal. “Baru hidup pada hari-hari besar. Selain itu, orang ke pasar lebih fokus ke ikan dan sayur,” tambahnya.
Menyadari bahwa tren digital tak lagi dapat ditahan, UPT kini merancang langkah pembinaan bagi pedagang agar mampu beradaptasi. Bohari menilai penguasaan teknologi dasar menjadi kebutuhan mendesak. “Para pedagang butuh workshop atau edukasi. Minimal sosialisasi untuk menghadapi tantangan ini,” tegasnya.
Melalui pelatihan digital, UPT berharap pedagang sandang tidak hanya mengandalkan kunjungan fisik, tetapi dapat memperluas pasar lewat media sosial dan platform daring, sehingga aktivitas ekonomi di gedung utama kembali bergerak. (Adv)


Tinggalkan Balasan