Sangatta News – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Mulyono, memastikan bahwa sektor pendidikan tetap menjadi prioritas utama pada tahun anggaran 2026. Meskipun kapasitas fiskal daerah tidak sebesar tahun sebelumnya, Pemkab Kutim menjamin tidak ada pemangkasan program krusial bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Pernyataan tersebut disampaikan Mulyono saat memaparkan program prioritas pendidikan dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) IV Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Kutim di Aula Gedung Wanita, Bukit Pelangi, Minggu (8/2/2026).
Mulyono menegaskan komitmen pemerintah terhadap kesejahteraan guru swasta. Pada tahun 2026, Pemkab Kutim tetap mengalokasikan anggaran untuk insentif atau tunjangan kinerja bagi guru non-ASN.
“Insyaallah tahun 2026 ini insentif guru swasta tetap kita berikan. Kami juga berharap ke depan ada regulasi yang memungkinkan peningkatan status mereka agar lebih baik lagi,” ujar Mulyono. Selain kesejahteraan guru, bantuan beasiswa stimulan bagi siswa jenjang SD sebesar Rp1 juta dan SMP sebesar Rp1,5 juta dipastikan terus berjalan.
Satu hal yang menarik perhatian adalah alokasi beasiswa khusus bagi penghafal Al-Qur’an (Tahfidz) dengan kuota 1.000 penerima. Nilai beasiswa ini lebih tinggi dari jalur reguler, yakni Rp1,5 juta untuk siswa SD dan Rp2,5 juta untuk siswa SMP.
Terkait perlengkapan sekolah, Pemkab Kutim tetap mempertahankan program bantuan seragam gratis empat stel, sepatu, dan perlengkapan dasar (starter kit) bagi siswa baru jenjang TK, SD, dan SMP. Program ini melengkapi pencapaian tahun sebelumnya yang telah menjangkau 91 ribu siswa.
Disdikbud juga memaparkan keberhasilan program pembelajaran Al-Qur’an dengan metode UMI di 39 sekolah negeri. Program ini melibatkan 89 guru khusus yang mendapatkan insentif tambahan Rp1,5 juta per bulan.
“Kami ingin anak-anak lulus SD dan SMP sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Tahun depan program ini akan kita perluas ke kecamatan lain,” tambahnya.
Di sisi peningkatan mutu tenaga pendidik, Pemkab Kutim saat ini membiayai ratusan guru melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sebanyak 177 guru kuliah S1 di UPI Bandung, 152 guru di Universitas Negeri Malang dan 300 guru menempuh S2 Inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta.
Mulyono juga menyinggung kerja sama internasional dengan Universitas Sampoerna dan University of Arizona (AS), di mana 10 putra-putri daerah mendapatkan beasiswa penuh untuk meraih gelar ganda (double degree).
Mulyono menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pendidikan dilakukan secara adil. Dalam dua tahun terakhir, Pemkab sukses merampungkan pembangunan Muhammadiyah Boarding School (MBS) serta sekolah Ma’arif berbasis NU.
“Semua sekolah kita bangun tanpa membedakan agama. Kami mengajak JSIT untuk terus berkolaborasi. Mari kita duduk bersama agar dukungan pemerintah benar-benar berdampak pada kualitas pendidikan di Kutim,” tambahnya.


Tinggalkan Balasan