Sangatta News — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Samarinda merilis peringatan dini terkait cuaca ekstrem yang membayangi Kalimantan Timur. Hampir seluruh wilayah Bumi Etam diproyeksikan akan memasuki periode basah intensif dengan guyuran curah hujan kategori menengah hingga tinggi pada dasarian III Mei (21—31 Mei 2026).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, mengungkapkan bahwa peluang terjadinya fenomena hidrometeorologi ini sangat valid.
“Proyeksi intensitas curah hujan secara umum berada di angka 50—150 milimeter (mm) dengan probabilitas atau peluang kejadian mencapai di atas 80%,” jelas Riza dalam keterangan resminya, Senin (25/5/2026).
Meskipun hujan diprediksi merata, BMKG memberikan catatan khusus pada zona interior Kaltim. Wilayah perbatasan di hulu sungai justru berpotensi menghadapi ancaman paling ekstrem dengan curah hujan kategori tinggi yang diperkirakan menyentuh angka 150—300 mm. Wilayah paling rawan adalah sebagian wilayah Kabupaten Mahakam Ulu dan Kabupaten Kutai Barat dengan estimasi curah hujan spesifik berpotensi menembus 150—200 mm.
Tingginya curah hujan di kawasan hulu ini menuntut kewaspadaan ekstra terhadap potensi banjir luapan sungai yang dapat mengganggu transportasi perairan dan memicu longsor.
Kutim dan Balikpapan Masuk Kategori Normal
Secara umum, karakteristik presipitasi (sifat hujan) pada akhir Mei ini diprediksi berada di bawah normal—hanya berkisar 50%—84% dari rata-rata klimatologisnya. Namun, aturan ini tidak berlaku bagi sejumlah wilayah kunci.
Beberapa daerah diproyeksikan tetap mempertahankan sifat hujan kategori Normal (85%—115%), yang berarti intensitas hujannya akan sama basahnya dengan tahun-tahun sebelumnya. Daerah-daerah tersebut meliputi:
- Kabupaten Kutai Timur (Kutim)
- Kabupaten Paser
- Kabupaten Kutai Barat
- Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar)
- Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU)
- Kabupaten Mahakam Ulu
- Kota Balikpapan
Tingginya potensi hujan di akhir bulan ini diperkuat oleh retrospeksi data cuaca pada pertengahan Mei (dasarian II). Berdasarkan pemutakhiran data BMKG hingga 20 Mei, sebagian besar wilayah Kaltim mencatatkan Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori Sangat Pendek, yaitu hanya berkisar 1—5 hari. Bahkan, ada beberapa kecamatan yang mencatatkan HTH sangat minimal—artinya hanya bertahan dua hari berturut-turut tanpa turun hujan, sebelum akhirnya diguyur kembali.
Pola curah hujan yang fluktuatif dan cenderung intens di beberapa titik ini menuntut kesiapsiagaan dari seluruh pemangku kepentingan. Riza Arian Noor mengingatkan agar ada langkah mitigasi yang nyata, terutama pada tiga sektor utama:
Masyarakat diimbau untuk terus memperbarui informasi cuaca resmi dari BMKG dan tetap waspada saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai dan lereng bukit.


Tinggalkan Balasan