Sangatta News — Sinergi kuat ditunjukkan oleh jajaran petinggi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Wakil Bupati Kutim Mahyunadi bersama Ketua DPRD Kutim Jimmi, turun langsung memimpin penyambutan kunjungan kerja Kapolda Kalimantan Timur (Kaltim), Irjen Pol Endar Priantoro, di Bandara Tanjung Bara, Sangatta, Jumat (29/5/2026).
Di bawah rintik gerimis tipis, kehangatan menyelimuti prosesi penyambutan jenderal bintang dua tersebut. Turut mendampingi dalam rombongan, Waka Polres Kutim Kompol Ahmad Abdullah, jajaran unsur Forkopimda, serta manajemen PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Namun, lawatan orang nomor satu di kepolisian Kaltim ini jauh dari sekadar seremoni protokoler belaka. Kehadiran Kapolda, yang dikawal langsung oleh Wabup Mahyunadi dan Ketua DPRD Jimmi, membawa misi besar dan strategis: meninjau langsung kawasan Industrial Farming Jagung di areal Pit J eks tambang PT KPC Sangatta Utara, yang dijadwalkan pada Sabtu (30/5/2026).
Kunjungan kerja ini membuka mata publik tentang bagaimana bentang alam bekas pertambangan tidak harus berakhir tragis sebagai hamparan terbengkalai yang mati dan kehilangan faedah. Melalui komitmen bersama, lahan yang dahulunya merupakan pusat pengerukan batu bara, kini perlahan disulih menjadi areal pertanian produktif yang memuat dimensi ekologis sekaligus harapan ekonomi baru bagi warga sekitar.
Wakil Bupati Mahyunadi menegaskan, kolaborasi taktis antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan sektor swasta menjadi kunci utama dalam menjaga kesinambungan pembangunan daerah. Menurutnya, kerja sama lintas sektor ini diperlukan agar potensi raksasa yang dimiliki Kutim tidak mandek pada pola eksploitasi sumber daya alam semata.
“Kolaborasi lintas sektor seperti ini penting, bukan hanya menjaga keamanan daerah, tetapi juga memastikan potensi yang ada bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Mahyunadi mantap.
Langkah berani memulihkan fungsi ruang hidup di lahan pascatambang ini menjadi sinyal bahwa Kutim mulai bergerak dari pola ekonomi ekstraktif menuju pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Selama bertahun-tahun, denyut nadi ekonomi Kutai Timur bertumpu sangat kuat pada industri batu bara. Ketergantungan tunggal ini disadari menyimpan kerentanan besar, terutama saat harga komoditas global diguncang fluktuasi. Oleh karena itu, pengembangan jagung di lahan pascatambang ini menjadi ikhtiar (upaya sungguh-sungguh) untuk melahirkan tumpuan ekonomi baru.
Jagung dipilih bukan tanpa alasan. Komoditas ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi, baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan mandiri maupun pasokan industri pakan ternak nasional.
Harapan Baru Selepas Batu Bara Habis digali
Di balik dimensi hijau kelestarian alam, proyek industrial farming ini menyimpan efek domino sosial yang luas. Kehadiran kawasan pertanian produktif ini dipastikan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal hingga pengembangan usaha turunan di sektor pangan.
Langkah ini menjadi pembuktian nyata bahwa kawasan tambang tidak harus berakhir sebagai lanskap sunyi dan berdebu selepas isi buminya habis dikuras. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan dan visi yang tepat, lubang-lubang galian dapat disulap menjadi ruang produksi yang memberi manfaat jangka panjang.
Kunjungan Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro, yang disambut hangat oleh Wabup Mahyunadi dan Ketua DPRD Jimmi, pada akhirnya meniupkan pesan kuat: masa depan Kutai Timur harus dirawat sejak sekarang. Melalui sinergi kepolisian, pemda, korporasi, dan masyarakat, model pemanfaatan lahan pascatambang KPC ini diharapkan menjadi teladan transformasi kawasan tambang menuju ruang yang lebih produktif, lestari, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat banyak.


Tinggalkan Balasan