Sangatta News — Malam belum benar-benar menua di Lapangan Kabo Jaya, Desa Swargabara, Sabtu (11/7/2026). Namun, ratusan warga dari berbagai latar belakang etnis tampak bergeming, larut dalam magisnya pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Di tengah gempuran budaya populer, panggung sederhana ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi belum kehilangan taringnya sebagai perekat sosial lintas generasi di Kutai Timur (Kutim).
Mewakili Bupati, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi secara simbolis menyerahkan gunungan (kayon) kepada sang dalang, menandai dimulainya lakon sarat filosofi kepemimpinan, “Sesaji Raja Suya”, yang dimainkan oleh Kelompok Karawitan Gono Remboko.
Bagi Pemkab Kutim, pagelaran wayang kulit ini melampaui sekadar fungsi hiburan rakyat. Kesenian ini merupakan medium krusial untuk meneguhkan persaudaraan di tengah masyarakat Kalimantan Timur yang sangat majemuk. Wabup Mahyunadi menegaskan bahwa stabilitas keamanan dan toleransi yang tinggi adalah alasan utama mengapa Kaltim dipilih menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia:
“Salah satu alasan Kaltim dipilih menjadi Ibu Kota Nusantara adalah karena daerah ini dikenal aman dan damai. Sampai hari ini kita tidak pernah mengalami kerusuhan antaretnis. Padahal suku, budaya, bahasa, dan agama di sini sangat beragam. Kalau masyarakat rukun, pembangunan akan berjalan dengan baik,” ujar Mahyunadi di hadapan ratusan pasang mata.
Ada pemandangan luar biasa di balik layar kelir malam itu. Sabetan wayang yang lincah dan suara tegas sang dalang ternyata lahir dari seorang pemuda berusia 20 tahun, Ki Dwi Marka Cahyono. Kehadiran dalang muda ini menjadi angin segar sekaligus sinyal kuat bahwa tongkat estafet kebudayaan di Kutim tidak terputus.
Ki Dwi Marka merupakan putra dari Margono, pemilik Kelompok Karawitan Gono Remboko asal Kediri yang baru berdiri setahun di Kutim. Berkat kepiawaiannya yang diasah sejak kecil, dalang milenial ini dijadwalkan akan segera menggebrak panggung wayang kulit di Samarinda pada Agustus mendatang.
Melalui lakon Sesaji Raja Suya, Ki Dwi mengajak penonton merenungkan bahwa wibawa seorang pemimpin tidak lahir dari kekuasaan semata, melainkan dari keikhlasan, pengorbanan, dan kesediaan mengutamakan rakyat.
Nuansa kebhinekaan yang terpancar dari denting gamelan malam itu berkelindan erat dengan realitas Desa Swargabara. Wilayah ini kerap dijuluki sebagai “Miniatur Indonesia” karena kluster pemukimannya yang dihuni secara harmonis oleh berbagai suku, mulai dari Kampung Jawa, Kampung Bugis, Kampung Banjar, Kampung Timor, hingga Kampung Tator (Toraja).
Kepala Desa Swargabara, Wahyuddin Usman, mengingatkan warganya agar benteng toleransi ini jangan sampai retak oleh isu apa pun. “Swargabara ini milik kita bersama. Saya titip pesan kepada seluruh masyarakat, mari terus kita jaga kerukunan, tetap guyub, saling menghormati, dan membantu. Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk terpecah, justru harus menjadi kekuatan untuk membangun desa yang maju,” tegas Wahyuddin.
Ketika fajar mulai menyingsing di Sangatta Utara, alunan terakhir gong tidak hanya menutup sebuah pertunjukan seni, melainkan mengukuhkan kembali fondasi sosial Kutim sebagai pilar kedamaian yang siap menopang masa depan Ibu Kota Nusantara.


Tinggalkan Balasan