Sangatta News — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melaporkan perekonomian Benua Etam tumbuh melambat sebesar 2,99% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I/2026. Meski tetap kokoh mendominasi separuh roda ekonomi Pulau Kalimantan, kecepatan pertumbuhan ekonomi Kaltim justru berada di posisi paling buncit dibandingkan empat provinsi tetangganya.
Di tataran regional, Kaltim sebenarnya masih menjadi lokomotif utama dengan kontribusi raksasa mencapai 46,48% terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pulau Kalimantan. Namun secara performa kecepatan (yoy), Kaltim tertinggal jauh. Kalimantan Barat memimpin di posisi teratas dengan pertumbuhan 6,14%, disusul Kalimantan Selatan (5,67%), Kalimantan Utara (5,23%), dan Kalimantan Tengah (3,79%).
Kepala BPS Provinsi Kaltim, Mas’ud Rifai, menyatakan nilai PDRB Kaltim atas dasar harga berlaku pada kuartal awal ini mencapai Rp229,08 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp149,02 triliun. “Pertumbuhan yang terjadi pada kuartal I/2026 memang tetap ditopang oleh kinerja positif di sebagian besar lapangan usaha,” ujar Mas’ud Rifai dalam keterangan resmi, Senin (1/6/2026).
Melambatnya ekonomi Kaltim tidak lepas dari performa sektor andalan utama, yakni pertambangan dan penggalian, yang justru mencatat kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar 1,19% secara yoy. Sektor ini memberi andil negatif terhadap pertumbuhan sebesar 0,53%, meski secara struktur masih mendominasi ekonomi Kaltim dengan porsi 33,45% dari total PDRB.
Di sisi lain, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tampil sebagai bintang baru dengan laju pertumbuhan tertinggi mencapai 15,94%. “Disusul sektor jasa lainnya yang tumbuh 15,78%, serta perdagangan besar dan eceran termasuk reparasi mobil dan sepeda motor yang melonjak 14,97%,” tambah Mas’ud.
Adapun tiga lapangan usaha yang menjadi penyumbang andil positif terbesar dalam pertumbuhan yoy kali ini adalah Perdagangan Besar dan Eceran, menyumbang andil 0,98%, Industri Pengolahan memberi andil 0,60% serta sektor Transportasi dan Pergudangan berkontribusi 0,34%
Sektor Pengeluaran: Ekspor Merah
Dari kacamata pengeluaran secara tahunan (yoy), pertumbuhan positif terjadi pada hampir seluruh komponen, kecuali sektor ekspor serta impor yang kompak terkontraksi.
Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) membukukan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,53%. Lonjakan ini dipicu oleh masifnya aktivitas lembaga dan organisasi kemasyarakatan dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Komponen pengeluaran lainnya yang juga tumbuh positif antara lain konsumsi pemerintah sebesar 7,51%, konsumsi rumah tangga naik 5,96%, dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi terkerek 3,44%. Sebaliknya, ekspor barang dan jasa yang menjadi andalan justru mencatat rapor merah dengan kontraksi sebesar 3,81% dibanding kuartal I/2025.
Meski ekspor menyusut, struktur PDRB Kaltim kuartal I/2026 dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh net ekspor dengan kontribusi sebesar 41,97%, diikuti oleh PMTB (35,52%), dan konsumsi rumah tangga (18,28%).
Jika ditelisik lebih dekat secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Kaltim pada kuartal I/2026 ini sebenarnya mengalami kontraksi sebesar 3,69% dibandingkan dengan kuartal IV/2025 (akhir tahun lalu).
Penurunan terdalam dari sisi pengeluaran terjadi pada komponen konsumsi pemerintah yang anjlok drastis hingga 46,35%. Sementara dari sisi lapangan usaha, sektor pertambangan dan penggalian kembali mencatatkan kontraksi terdalam secara qtq sebesar 6,72%, disusul industri pengolahan yang melemah 5,51%, dan administrasi pemerintahan yang terkoreksi 6,36%. Beruntung, sektor perdagangan besar dan eceran tampil sebagai penyelamat ekonomi kuartalan Kaltim dengan tetap tumbuh positif sebesar 7,59% secara qtq.


Tinggalkan Balasan