Sangatta News — Penyakit jantung kini tidak lagi identik sebagai penyakit lansia. Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), tren gangguan kesehatan mematikan ini dilaporkan mulai bergeser radikal dan mengintai kelompok usia produktif hingga anak-anak akibat perubahan gaya hidup.
Tantangan nyata tersebut menjadi fokus utama bagi Siti Robiah yang resmi didaulat untuk menakhodai Pengurus Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Kutim untuk masa bakti lima tahun ke depan (2026–2031). Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua YJI Provinsi Kalimantan Timur, Wahyu Hernaningsih, di Pendopo Rumah Jabatan Bupati, Bukit Pelangi, Sangatta.
Hadir menyaksikan pelantikan, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengingatkan bahwa penyakit jantung masih bertengger di daftar atas penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Karakteristiknya yang kerap berkembang tanpa gejala membuat penyakit ini dijuluki sebagai pembunuh senyap (silent killer).
Oleh karena itu, Bupati Ardiansyah meminta YJI Kutim bergerak taktis di lapangan sebagai mitra strategis pemerintah untuk mengedukasi masyarakat. “Yayasan Jantung Indonesia bukan hanya menjadi organisasi sosial di bidang kesehatan, tetapi juga harus menjadi motor penggerak dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kesehatan jantung sejak dini,” tegas Bupati.
Guna memutus rantai kasus, Bupati mengimbau warga Kutim untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan lewat gerakan CERDIK yakni Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stres dengan baik.
Senada dengan Bupati, Ketua YJI Kaltim Wahyu Hernaningsih menegaskan bahwa kepengurusan yang baru dibentuk ini membawa misi kemanusiaan yang berat. Ia menuntut pengurus baru untuk segera menelurkan program kerja yang inklusif dan inovatif.
Secara khusus, Wahyu menyoroti ancaman gaya hidup baru di kalangan generasi muda yang berpotensi merusak jantung sejak dini. “Kepengurusan ini bukan sekadar sebuah kehormatan atau jabatan, melainkan tanggung jawab dan pesan mulia. Saya mendorong penguatan sosialisasi pilar CERDIK, termasuk mengampanyekan bahaya penggunaan rokok elektronik atau vape di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi,” ujar Wahyu.
Merespons instruksi tersebut, Ketua Umum YJI Kutim Siti Robiah memastikan seluruh pasukannya akan langsung tancap gas beroperasi di 18 kecamatan. Ia berkomitmen membawa organisasi ini keluar dari zona nyaman seremonial demi menyelamatkan generasi masa depan Kutim.
“Ini bukan sekadar seremonial. Kita dihadapkan pada kenyataan tingginya kasus penyakit jantung di Kutim yang kini menyasar anak-anak dan usia produktif. Melalui momentum ini, YJI Kutim akan mengoptimalkan program nyata di lapangan guna mendukung pembangunan daerah dan menciptakan generasi Kutim yang sehat serta produktif,” tambah Siti Robiah.


Tinggalkan Balasan