Sangatta News — Perjalanan melintasi bentang alam Kutai Timur (Kutim) bukan sekadar urusan penilaian administratif di atas meja. Bagi Tim Verifikasi Geopark, rangkaian kunjungan lapangan pada Selasa (07/07/2026) menjadi sebuah ekspedisi menembus lorong waktu jutaan tahun lalu.
Dari keheningan goa prasejarah, riak mata air magis di celah batu gamping, hingga kejutan besar dari ruang perpustakaan sekolah dasar; Kutim tengah memperlihatkan bagaimana sebuah peradaban modern bersanding erat dengan warisan geologi dunia.
Langkah tim hari itu awalnya direncanakan bergerak cepat dari Rumah Cagar Budaya di Sangatta menuju Kecamatan Kaliorang. Kelelahan setelah menempuh jarak panjang membuat rombongan memutuskan singgah sejenak di Kantor Kecamatan Bengalon untuk melepas lelah.
Namun, ruang istirahat itu seketika berubah menjadi forum diskusi yang hangat dan produktif begitu Camat Bengalon, Muhammad Harun Rasyid, beserta jajaran pemerintahan kecamatan menyambut tim. Obrolan mengalir deras membahas potensi kawasan, upaya pelestarian, hingga strategi pengembangan kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang melintasi wilayah mereka.
Camat Harun Rasyid mengungkapkan, perhatian terhadap Geopark awalnya lebih banyak tertuju pada situs-situs budaya. Namun, seiring berkembangnya kajian ilmiah, kawasan karst yang berada di wilayah Bengalon kini diakui sebagai pilar penting dalam pengembangan Geopark secara keseluruhan.

Salah satu geosite yang kini menjadi magnet perhatian adalah Gua Tewe, sebuah situs prasejarah ikonik di kawasan Gunung Gergaji, Desa Tepian Langsat. Wilayah ini menyajikan bentang alam karst yang sangat luas, lengkap dengan bukit kapur, jaringan sungai bawah tanah, dan jaringan goa yang memiliki nilai keanekaragaman hayati serta ilmiah yang tinggi.
“Kalau bukan kita yang menjaga gunung karst ini, siapa lagi? Geopark menjadi penguat agar kelestarian alam tetap terjaga sehingga warisan yang telah ada selama ratusan bahkan ribuan tahun dapat dinikmati hingga generasi mendatang,” tegas Harun Rasyid.
Istimewanya, dalam proses verifikasi ini, tim tidak hanya disuguhi data di atas kertas. Mereka berkesempatan melakukan obrolan langsung dengan Bapak Tewe, sang penemu pertama gua legendaris tersebut. Kehadiran figur lokal ini mempertegas komitmen akar rumput masyarakat Bengalon dalam menjaga situs yang bernilai arkeologi tinggi tersebut.
Tidak hanya kaya secara geologi, Bengalon juga memamerkan tameng budayanya yang hidup berdampingan dengan industri perkebunan dan pertambangan sekitar. Camat Rasyid menekankan pentingnya harmonisasi pembangunan dengan alam. Di sana, adat istiadat dirawat lewat agenda tahunan seperti Festival Pantai Sekerat di Desa Sekerat (yang menjadwalkan ritual adat Belian dan Ngelur Naga pada 10–12 Juli), pelestarian kerajinan tradisional Suku Dayak Basap di Kampung Budaya Desa Keraitan, hingga tradisi pesta panen tahunan di Desa Tepian Baru yang diproyeksikan menembus skala nasional.
Kejutan Literasi di SDN 002 Selangkau
Satu setengah jam selepas diskusi hangat di Bengalon, tim verifikasi melanjutkan perjalanan menuju Desa Selangkau, Kecamatan Kaliorang. Setibanya di SD Negeri 002 Selangkau—sebuah sekolah yang berdiri dengan latar belakang megahnya gugusan bukit karst—tim disambut oleh gerakan gemulai empat siswi yang membawakan tarian tradisional suku Dayak.
Namun, kejutan sesungguhnya justru menanti di dalam gedung perpustakaan sekolah berpredikat Adiwiyata Nasional ini. Lima siswa telah berdiri tegak dan bersiap mempresentasikan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat langsung di hadapan salah satu Tim Verifikasi, yakni Prof. Mega Fatima Rosana, yang merupakan Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad).

Mereka adalah Aqilah Tsamratul Faudah (kelas IV), Muhammad Afif Husein (kelas IV), Adzkia Samha Saufa (kelas V), Athalla Narendra Supardi (kelas V), dan Muhammad Zidan Alfaruq (kelas VI).
Tanpa rasa canggung, kelima bocah sekolah dasar ini secara bergantian memaparkan pembentukan kawasan karst, kekayaan ekosistemnya, hingga metode pelestariannya dengan runtut. Wawasan mereka yang mendalam langsung memicu riuh tepuk tangan dari tim verifikasi yang terpukau.
“Wah Prof, anak-anak ini bisa langsung masuk Unpad tanpa perlu tes. Mereka sudah hafal dan runut sekali penjelasannya,” celetuk salah satu anggota tim pendamping yang disambut senyum bangga para guru.
Selesai di perpustakaan, anak-anak ini membawa para profesor ke halaman depan gedung untuk melihat singkapan batu gamping lokal. Mereka membuktikan secara ilmiah bahwa jutaan tahun lalu, kawasan sekolah mereka adalah dasar laut dangkal purba.
“Jadi apabila batu kapur kita tuangkan dengan zat asam klorida, akan memberikan reaksi berbuih dan perlahan terkikis. Reaksi ini menghasilkan gas karbon dioksida atau $CO_2$,” jelas Aqilah dengan fasih sembari mempraktikkan eksperimen geologi sederhana.
Kecintaan pada lingkungan di sekolah ini tidak berhenti pada teori. Zidan, salah satu siswa yang bercita-cita menjadi Guru IPA, memamerkan bagaimana sekolah mereka mengelola air hujan secara mandiri. “Jadi air hujan kami tampung. Selain untuk kebutuhan MCK, sebagian airnya juga digunakan untuk kolam ikan yang kita pelihara, mulai dari ikan gabus dan nila,” ujarnya. Di akhir kunjungan, tim diajak melihat ke belakang sekolah, tempat Formasi batuan kapur purba menjulang tinggi dengan megah.
Tangga Bidadari
Destinasi pemungkas yang dikunjungi tim hari itu adalah Mata Air Tangga Bidadari, yang terletak di RT 01 Desa Selangkau, Kaliorang. Lokasi ini menjadi lokus penilaian utama untuk menguji tiga aspek fundamental pengembangan Geopark berkelanjutan: konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Tangga Bidadari adalah sebuah fenomena alam eksotis. Sumber mata air alaminya yang sangat jernih berwarna kebiruan mengalir melalui undakan bebatuan bertingkat yang menyerupai susunan tangga, dikelilingi rimbunnya hutan tropis yang asri.
Secara geologi, air terjun berjenis cascade (bertingkat) ini menyimpan catatan ilmiah yang luar biasa rumit. Susunan batuan merupakanp erselingan batugamping klastik (wackestone) dan napal dengan formasi batuan Maluwi. Sementara estimasi umur Miosen Tengah (dekitar 11–16 juta tahun lalu) dengan karakteristik Napal halus berwarna putih kecokelatan, kaya fosil mikroorganisme laut purba, struktur lipatan antiklin, serta ditemukannya rembesan minyak bumi alami pada rekahan batuan.

Di balik pesona geologi purbanya, Tangga Bidadari menjadi contoh nyata bagaimana ekonomi kerakyatan berjalan selaras dengan perlindungan alam. Kawasan wisata ini dikelola sepenuhnya oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan melibatkan warga sekitar. Fasilitas seperti gazebo, toilet, dan stan kuliner UMKM ditata sedemikian rupa agar rapi dan tidak merusak estetika lanskap alami. Kebersihan pun terjaga melalui sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Sembari menikmati kesegaran air, tim verifikasi yang didampingi oleh Plt Camat Kaliorang, Pitriani, berkesempatan melakukan dialog dengan kelompok tani setempat. Di sinilah diperkenalkan komoditas kebanggaan lokal yakni Pisang Kepok Grecek. Pisang ini bukan sekadar buah tropis biasa, melainkan produk pertanian yang telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis (IG) resmi dan berhasil diekspor menembus pasar global dalam berbagai bentuk produk turunan.
Dengan mengusung konsep utama “Dari Laut ke Mata Air, Semua Ada di Sini,” Wisata Mata Air Tangga Bidadari menutup rangkaian verifikasi hari itu dengan satu pesan kuat: kekayaan geologi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat tidak harus saling mengorbankan, melainkan bisa tumbuh bersama menjaga warisan dunia di Kutai Timur.


Tinggalkan Balasan