Sangatta News — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyatakan komitmen penuh untuk mengantarkan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat lolos verifikasi menjadi Geopark Nasional, bahkan memproyeksikannya hingga ke tingkat dunia bersama UNESCO.

Komitmen fiskal dan lingkungan ini disampaikan langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, saat menyambut kedatangan Tim Verifikasi Geopark Nasional (TVGN) di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutim, Senin (6/7/2026) malam.

Keseriusan ini langsung dibuktikan di lapangan pada hari kedua penilaian, Selasa (7/7/2026), di mana tim verifikasi disambut hangat dengan kearifan lokal Suku Basap melalui ritual adat Tempong Tawar saat mengunjungi Galeri Cagar Budaya di kawasan kantor Dispora Kutai Timur.

Dalam sambutannya, Bupati Ardiansyah Sulaiman menegaskan komitmen daerah tidak hanya berhenti pada mengejar status administratif, melainkan murni menjaga warisan dunia. Ia memaparkan bahwa kekayaan geologi Sangkulirang-Mangkalihat sudah puluhan tahun dipelajari oleh peneliti internasional, termasuk tim ahli dari Prancis.

Bupati juga memanfaatkan momentum ini untuk menepis anggapan publik bahwa Kutim melulu tentang industri kerukan batu bara. “Memang kita memiliki sektor pertambangan dan migas, tetapi pada saat yang sama kita tetap menjaga kelestarian hutan. Lebih dari separuh wilayah Kutim masih berupa kawasan hutan yang terjaga (Taman Nasional Kutai, hutan lindung, dan kawasan konservasi). Keseimbangan pembangunan dan konservasi inilah yang terus kami pertahankan,” tegas Ardiansyah.

Terkait kekhawatiran aktivitas industri tambang yang mendekati kawasan karst di Sekerat dan Kaliorang, Bupati memastikan pemerintah daerah telah melakukan evaluasi ketat agar area pertambangan tidak menyentuh atau mengganggu kawasan inti karst geopark. Komitmen tata kelola lingkungan Kutim sendiri sebelumnya telah diakui global lewat penghargaan program Carbon Fund dari World Bank.

Ketua Tim Verifikasi, Prof. Mega Fatimah Rosana, menjelaskan bahwa kunjungan lapangan selama lima hari di Kalimantan Timur ini bertujuan untuk mencocokkan dokumen usulan yang sudah dipelajari sejak tahun 2025 dengan fakta riil di lapangan.

Menurut Prof. Mega, Sangkulirang-Mangkalihat punya potensi luar biasa untuk menjadi geopark kedua di Pulau Kalimantan, bahkan sangat layak melangkah ke jenjang UNESCO Global Geopark. Hasil verifikasi lapangan ini nantinya akan diserahkan ke Kementerian ESDM sebagai bahan rapat pleno lintas kementerian.

“Penetapan Geopark Nasional bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal. Tantangan sesungguhnya setelah status itu diperoleh adalah bagaimana menjaga kekayaan geologi, hayati, dan budaya agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun pendidikan,” urai Prof. Mega.

Potensi ekonomi ini juga diamini oleh Bupati Ardiansyah, yang optimistis status Geopark Nasional akan menjadi pemantik besar bagi berkembangnya sektor pariwisata, industri kreatif, UMKM, dan kesejahteraan masyarakat Kutim.

Dingin Lahir Batin Lewat Ritual Tempong Tawar Suku Basap

Memasuki hari kedua verifikasi (7/7/2026), suasana formal penilaian langsung mencair dengan kehangatan budaya lokal. Suku Ulun Darat Basab (Suku Basap) menggelar ritual Tempong Tawar untuk menyambut para tim penilai di Galeri Cagar Budaya.

Bagi Suku Basap, Tempong Tawar adalah tradisi turun-temurun yang bermakna mendinginkan serta menetralkan suasana atau jiwa, mendatangkan berkah, sekaligus memohon keselamatan agar kegiatan dijauhkan dari segala bala dan gangguan.

Sambutan mengungkan uborampe khusus yang sarat filosofi, yakni Beras (simbol kemakmuran dan kesejahteraan), Kunir (lambang kejayaan dan penetralan), serta Batang Tebu Simang (sebagai batang tawar seribu).

Ritual diawali dengan pembacaan doa tenaran oleh pemangku adat. Setelah itu, media tempong tawar diusapkan secara berurutan mulai dari dahi, dada, tangan kanan-kiri, lutut, hingga diakhiri di bagian kaki para tamu kehormatan.

Melalui ritual Tempong Tawar ini, masyarakat adat Suku Basap ikut menitipkan doa dan harapan agar seluruh proses penilaian Geopark Sangkulirang-Mangkalihat berjalan lancar, damai, dan membawa berkah dalam suasana dingin lahir dan batin bagi bumi Kutai Timur.