Sangatta News – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) bersama Kepolisian Resor (Polres) Kutim menetapkan status siaga terhadap ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta dampak kekeringan akibat cuaca ekstrem. Langkah antisipasi tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Karhutla dan El Nino se-Kaltim yang digelar di Auditorium Mapolres Kutim, Selasa (4/8/2026).
Meskipun Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyatakan situasi wilayahnya relatif kondusif, data kepolisian mencatat adanya peningkatan ancaman karhutla sepanjang tahun 2026.
Kapolres Kutim AKBP Aryansyah mengungkapkan bahwa periode Januari hingga Juli 2026 terdeteksi sebanyak 60 titik hotspot di areal perkebunan Kutim, dengan total luas lahan terbakar mencapai 65 hektare. Puncak kemunculan titik panas terjadi pada April 2026 dengan 22 hotspot yang menghanguskan 25 hektare lahan.
“Satu titik api yang terlambat ditangani dapat berkembang menjadi bencana besar akibat angin kencang dan kondisi lahan kering. Karhutla bukan hanya soal kebakaran, tetapi menyangkut keselamatan, kesehatan, hingga ekonomi masyarakat,” tegas AKBP Aryansyah.
Sebagai bentuk penanganan terpadu, sebanyak 134 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, serta tim tanggap darurat perusahaan (PT KPC, PT Indexim Coalindo, PT Sinarmas, PT Fajar, PT Dewata, dan PT Duta Samba) telah disiagakan. Polres Kutim juga telah menerjunkan armada pendukung meliputi 1 unit Armoured Water Cannon (AWC), 6 unit kendaraan double cabin, dan 19 unit motor trail untuk menjangkau titik krusial.
Infrastruktur penanggulangan di lapangan juga disiapkan, mencakup 208 embung di tujuh kecamatan—dengan konsentrasi terbanyak di Muara Wahau sebanyak 124 lokasi—serta puluhan sumur bor, 24 sekat kanal, dan 72 menara pantau.
Di sisi lain, Bupati Ardiansyah Sulaiman menginstruksikan jajarannya untuk memetakan dua ancaman utama musim kemarau, yakni perembetan api ke pemukiman warga serta dampak kekeringan pada sektor pertanian. Pemkab Kutim menyoroti fenomena swabakar material batubara di area pertambangan akibat panas ekstrem yang perlu penanganan teknis ketat agar tidak meluas.
Guna menanggulangi krisis air di sektor pertanian, Pemkab Kutim melalui Dinas Tanaman Pangan menyalurkan 20 unit pompa air ke sentra-sentra pertanian, seperti persawahan Desa Teluk Pandan, serta mempercepat perbaikan sistem irigasi di wilayah Kongbeng.
“Kondisi Kutim sampai saat ini masih terkendali. Namun mitigasi harus didukung data yang akurat agar langkah di lapangan tepat sasaran, baik dalam mengantisipasi karhutla maupun menjaga produktivitas lahan pertanian warga,” ujar Ardiansyah.
Selain penyiapan sarana fisik, Polres Kutim memfokuskan strategi pada deteksi dini melalui 301 kegiatan Pengecekan Hotspot, 430 sosialisasi larangan membakar lahan, pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa, serta pengoptimalan Command Center 110 untuk laporan darurat warga.


Tinggalkan Balasan