Sangatta News — Ancaman peredaran gelap narkotika di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kian menjadi perhatian serius. Memiliki keunggulan letak geografis dengan jalur akses darat dan perairan yang terbuka lebar, Kutim rentan menjadi pintu masuk penyusupan zat terlarang tersebut.
Sadar bahwa penindakan hukum saja tidak cukup, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mendorong peran aktif para pemuka agama serta pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk mengambil posisi di garis depan dalam mengedukasi masyarakat.
Pesan tegas tersebut disampaikan Ardiansyah usai membuka Rapat Koordinasi (Rakor) FKUB Kutim pada Kamis (27/8/2026). “Persoalan narkoba ini dampaknya sangat luas. Tidak hanya merambah ranah hukum, tetapi juga merusak tatanan keluarga, kehidupan sosial, hingga mengancam ketahanan masyarakat dan masa depan generasi muda. Karena itu, butuh peran seluruh elemen, terutama pemuka agama dan FKUB,” ujar Ardiansyah kepada awak media.
Menurut Ardiansyah, para tokoh agama memiliki kedudukan strategis yang sangat didengar oleh umat. Pendekatan berbasis nilai spiritual dan penguatan moral di rumah-rumah ibadah dinilai ampuh membentengi mental generasi muda dari godaan barang haram.
Ia meminta pesan-pesan pencegahan narkoba tidak berhenti pada seremonial rakor belaka, tetapi ditransmisikan secara kontinu dalam setiap mimbar ceramah, kotbah, hingga pembinaan keluarga.
“Mohon masing-masing tokoh agama memberikan wejangan lebih dalam kepada umat dan keluarga untuk mengantisipasi narkoba. Agama harus mampu menyadarkan sekaligus membentengi masyarakat,” tegasnya.
Bupati menekankan bahwa tugas FKUB di Kutim tidak sekadar merawat keharmonisan antarumat beragama, tetapi juga menjaga kualitas kehidupan sosial masyarakat agar terbebas dari ancaman pekatnya dunia narkotika.
Ia mengimbau masyarakat Kutim untuk membuang jauh-jauh sikap apatis. Jika menemukan indikasi atau aktivitas mencurigakan terkait penyalahgunaan narkoba di lingkungannya, warga diminta tak ragu berkoordinasi dengan aparat berwenang.
“Menjaga kerukunan antarumat beragama yang sudah terbangun baik di Kutim harus beriringan dengan menjaga kualitas sosialnya. Sinergi antara pemerintah, aparat, FKUB, tokoh agama, dan keluarga adalah kunci utama menciptakan Kutim yang sehat, aman, dan berakhlak,” tambah orang nomor satu di Pemkab Kutim tersebut.


Tinggalkan Balasan