- Waktu yang dihabiskan bermain media sosial di Indonesia mencapai 3 jam 18 menit setiap harinya dan menjadi yang tertinggi kesepuluh di dunia.
- Meskipun dapat menjadi sumber pengetahuan, namun penting untuk diingat bahwa ada ancaman dari aktivitas bermedsos ini.
PENGGUNA Pengguna media sosial di Indonesia saat ini sudah mencapai 167 juta orang atau mencapai 60,4 persen dari total populasi di dalam negeri pada 2023. Sebuah angka yang besar tapi juga membutuhkan kehati-hatian bagi siapapun jika menggunakan media sosial. Terutama bagi anak-anak dan remaja.
Mengutip data dari dataindonesia.id dan Laporan We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 167 juta orang pada Januari 2023. Sementara waktu yang dihabiskan bermain media sosial di Indonesia mencapai 3 jam 18 menit setiap harinya. Durasi tersebut menjadi yang tertinggi kesepuluh di dunia.
Penelitian perusahaan keamanan siber global Kaspersky menegaskan bahwa media sosial adalah aktivitas teratas untuk pengguna online di Asia Tenggara. Dalam studi yang dilakukan Mei 2020 di antara 760 responden, mengungkapkan bahwa 80% orang tua di wilayah ini menghabiskan banyak waktu untuk aplikasi jejaring sosial.
Meskipun platform jaringan virtual ini dapat menjadi sumber pengetahuan dan bantuan berguna bagi para orang tua yang mencoba menyeimbangkan aktivitas anak-anak dan remaja, namun penting untuk diingat bahwa ada ancaman dari aktivitas bermedsos ini.
Penting untuk berhati-hati dengan informasi yang diposting di akun media sosial karena bahaya terbesar terletak pada fakta bahwa informasi yang dibagikan di situs jejaring sosial dan sumber publik lainnya dapat dianalisis dan digunakan oleh seluruh orang asing, termasuk pelaku kejahatan siber dari celah manapun.
Segala sesuatu yang dipublikasikan oleh orang tua atau anak-anak secara online dapat menjadi bumerang yang merugikan, baik itu posting tentang topik acak, foto pribadi, atau detail kehidupan mereka. Oleh karena itu penting untuk mengingat dan mengajakan kepada anak-anak: sebelum mengklik tombol, “luangkan waktu sebentar untuk berpikir dua kali”.
Pikirkan tentang konsekuensi merugikan di masa mendatang yang mungkin dapat timbul dari publikasi yang dibagikan. Apakah informasi ini akan berdampak negatif pada kehidupan pribadi atau orang lain? Apakah mungkin menggunakan informasi ini, misalnya, untuk melacak Bunda atau anak-anak di dunia nyata? Siapa saja yang dapat melihat informasi ini?
Alamat rumah atau sekolah
Berbekal informasi ini, para perampok, pedofil, pengganggu, dan profil jahat lainnya dapat dengan mudah menemukan Bunda atau putra-putri Bunda. Anak-anak jarang mempublikasikan alamat rumah di situs jejaring sosial, tetapi sangat sering menyebutkan nama sekolah yang mereka hadiri. Selain di halaman utama, penting juga untuk tidak membagikan informasi ini di kolom komentar atau foto yang secara eksplisit menjelaskan tempat anak bersekolah.
Nomor telepon
Bagi anak-anak, nomor telepon adalah kontak langsung yang dapat digunakan oleh teman sebaya untuk pertolongan atas perlakuan penindasan dan bahkan bagi orang dewasa masih banyak lagi. Bagi para pelaku kejahatan siber, informasi khusus ini adalah salah satu data paling berharga yang bisa mereka dapatkan. Misalnya setidaknya sejak tahun 2016 penjahat dunia maya mulai mengumpulkan nomor telepon pengguna jejaring sosial dan menggunakan informasi yang dicuri untuk mendaftar ulang ke layanan perbankan online dan mendapatkan akses ke akun korban mereka.
Geolokasi saat ini
Informasi bahwa keluarga jauh dari rumah adalah sinyal untuk pencuri. Ini juga memudahkan untuk melacak seseorang. Selain itu, mengatakan sesuatu seperti ‘tempat favorit kami’ dan memposting geotag dapat membahayakan meskipun Bunda sedang tidak berada di tempat tersebut. Ini menunjukkan kepada pelaku kejahatan bahwa tempat tersebut menjadi lokasi untuk menemukan siapapun dengan mudah.
Foto dan video pribadi
Berfoto mungkin menjadi aktivitas yang cukup menyenangkan bagi para remaja namun dapat menimbulkan masalah jika dipublikasikan di Internet. Misalnya, ada banyak situs yang mengumpulkan gambar erotis gadis remaja yang mereka posting sendiri dan dipublikasikan sebagai konten ‘panas’. Direktur perguruan tinggi dan universitas serta calon perekrut pekerjaan mungkin memiliki pandangan tertentu akan hal ini (mis., melakukan perjalanan dalam kondisi mabuk).
Mengompromikan foto orang lain
Jangan mempublikasikan foto orang lain jika tidak ingin menjadi korban kejahatan. Pengguna dari segala usia harus memahami aturan dasar ini. Jika anak Bunda memahami bahwa memposting foto-foto dari perayaan pesta remaja dapat membahayakan, mengapa mengunggah foto sahabat pria atau wanita mereka menjadi hal yang layak?
Foto bayi dari anak remaja
Orang tua sangat sering memposting informasi di Web tentang anak mereka. Penting untuk diingat bahwa foto-foto anak-anak yang terlihat sangat manis dapat berpotensi mengakibatkan penindasan (bullying) di kemudian hari.
Foto-foto barang mewah
Ini akan menunjukkan tingkat kekayaan atau menandai kemewahan seseorang kepada pihak asing. Bersama dengan alamat rumah dan geolokasi saat ini akan menjadi tambang emas bagi pencuri yang berselancar mencari korban di Internet.
Informasi tentang kehidupan pribadi
Informasi pribadi selalu dapat digunakan untuk merugikan. Misalnya, ini dapat digunakan untuk menebak kata sandi akun online, merencanakan penipuan yang kemungkinan besar akan membuat Bunda terjerat di dalamnya, atau untuk berkenalan dengan anak-anak dan mendapatkan kepercayaan mereka. Mempublikasikan keluhan atau informasi pribadi tentang orang yang dicintai juga sangat berbahaya karena dapat merusak hubungan.
Pernyataan kritis tentang topik sensitif
Tentu saja, Bunda dan anak-anak boleh memiliki pendapat sendiri. Namun, jika masalah yang diperdebatkan menyangkut agama, politik, orientasi seksual, dll, akan lebih baik untuk tidak membagikannya di Internet. Hal ini dapat menyebabkan konflik yang dapat bergeser dari dunia maya ke dunia nyata, atau merusak reputasi Bunda di mata lembaga pendidikan atau perusahaan potensial.
Apa yang harus Bunda lakukan?
- Beri tahu putri-putri Bunda apa yang tidak boleh, dalam keadaan apa pun, dipublikasikan di Internet dan alasannya. Jelaskan bahwa mengunggah sesuatu di situs jejaring sosial layaknya berbicara di depan umum. Bunda tidak boleh menulis apa pun di Internet yang akan dianggap berbahaya atau tidak etis untuk ‘diteriakkan’ sembarangan di jalan atau di ruang kelas.
- Jelaskan bahwa semua informasi sensitif hanya dapat dibagikan melalui pengirim pesan dan hanya dengan orang yang Bunda kenal di kehidupan nyata.
- Mendaftar di situs jejaring sosial yang sama dengan anak dan menambahkan mereka sebagai teman sehingga Bunda dapat melihat kiriman mereka dan dengan cepat mencegah keterbukaan yang berlebihan.
- Jika anak Bunda masih kecil, ingatlah bahwa akun jejaring sosial pertamanya harus dibuat bersama dengan orang tua. Dalam hal ini Bunda akan dapat menjelaskan semua aturan dan menyiapkan semua tindakan keamanan yang memiliki keselarasan dan pemahaman penuh tentang si buah hati.
- Memanfaatkan aplikasi kontrol orang tua seperti Kaspersky Safe Kids atau aplikasi lain yang dapat melindungi anak-anak dari konten yang tidak pantas. Juga dapat memberi tahu Anda tentang perubahan pada profil jejaring sosial dan daftar teman mereka serta unggahan yang berpotensi berbahaya. [*]


Tinggalkan Balasan