Sangatta News — Pelepasan kontingen Kutai Timur (Kutim) menuju Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII 2026 di Kabupaten Gorontalo menyisakan catatan kritis yang mendalam. Di tengah gairah keberangkatan para petani, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman secara terbuka melemparkan “Pekerjaan Rumah” (PR) besar yang belum tuntas terkait mandeknya hilirisasi kelapa sawit di daerahnya.
Ardiansyah menyentil keras fakta ironis di mana Kutim yang berstatus sebagai salah satu pemilik hamparan kebun kelapa sawit terluas di Kalimantan Timur (Kaltim), justru kalah gesit dari kota tetangga, Bontang, dalam urusan mendirikan pabrik minyak goreng.
“Ini menjadi perhatian serius dan PR yang selalu saya ingat. Bontang yang bukan daerah perkebunan sawit justru berhasil mendirikan pabrik minyak goreng skala mini lewat kerja sama pengusaha. Kita punya bahan bakunya, kita juga sudah punya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy. Peluang ini harus segera kita tangkap!” tegas Ardiansyah di Ruang Tempudau Kantor Bupati Kutim, Kamis (18/6/2026).
Bupati langsung menginstruksikan Kepala Dinas Perkebunan untuk segera membangun komunikasi intensif dengan Dinas Koperasi agar teknologi pabrik minyak goreng mini berbasis koperasi bisa segera terealisasi di Kutim pasca-ajang PENAS tahun ini.
Di sisi lain, rona kebahagiaan dan optimisme terpancar jelas dari raut wajah Muhammad Nawir. Petani hortikultura asal Kecamatan Kaliorang ini terpilih menjadi salah satu tumpuan harapan Kutim di Gorontalo.
Nawir tidak berangkat dengan tangan kosong. Ia memboyong langsung produk primadona dari kebunnya: Satu tandan Pisang Grecek mentah berukuran jumbo yang memiliki 14 sisir dalam satu tandan.
Ia berharap keikutsertaannya di PENAS XVII Gorontalo dapat mengadopsi metode modern dari para ahli se-Indonesia untuk mengantisipasi serangan hama pisang yang sempat melanda kawasan Kaliorang. Selain itu dapat mendalami perkembangan budidaya sayur-sayuran dan sektor perikanan guna mendongkrak pendapatan kelompok taninya saat pulang nanti.
“Saya sangat bersyukur dihubungi oleh dinas untuk ikut ke Gorontalo. Di sana nanti saya mau banyak belajar dan menimba ilmu. Harapan terbesar saya, waktu pulang nanti bisa bawa teknologi penanganan hama pisang yang lebih modern agar bisa saya bagikan ke teman-teman petani di Kaliorang,” ujar Nawir dengan mata berbinar.
Pemkab Kutim menegaskan bahwa pengiriman kontingen yang melibatkan kelompok tani muda (KTM) hingga praktisi integrated farming (pertanian terpadu) ini bukan sekadar agenda jalan-jalan dinas.
Bupati memastikan, sekembalinya kontingen dari Gorontalo, Sekretaris Daerah (Sekda) akan memimpin langsung evaluasi ketat untuk menagih rencana aksi inovasi yang nyata dari para peserta.
Saat in sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan sedang menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif pada PDRB non-migas dan batu bara. Pemerintah daerah menuntut transformasi sektor agraris Kutim agar segera bergerak ke arah digitalisasi dan hilirisasi industri demi kesejahteraan masyarakat yang merata.


Tinggalkan Balasan