Sangatta News – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman meminta mahasiswa Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutim yang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi mampu menjadi katalisator perubahan yang mendorong kemajuan desa, khususnya di sektor pertanian.

Pesan tersebut disampaikan Ardiansyah saat melepas 53 mahasiswa KKN STIPER Angkatan XXII di halaman Kantor Sekretariat Daerah Kutim, Bukit Pelangi, Sangatta, Senin (27/7/2026). Para mahasiswa akan menjalankan pengabdian kepada masyarakat selama 45 hari di enam desa di Kecamatan Kaubun.

Menurut Ardiansyah, KKN merupakan momentum bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah sekaligus mengasah kemampuan dalam menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.

“KKN bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Ini adalah kesempatan untuk menguji kemampuan, mengaplikasikan ilmu, sekaligus belajar langsung dari dinamika kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya mahasiswa menjaga etika, menghormati nilai-nilai kearifan lokal, serta membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat maupun pemerintah desa selama menjalankan program KKN.

Lebih dari itu, Ardiansyah berharap para mahasiswa mampu hadir sebagai agen perubahan yang adaptif. Mereka didorong untuk mengidentifikasi potensi unggulan desa sekaligus menawarkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama dalam pengembangan sektor pertanian.

Menurutnya, pertanian saat ini menjadi salah satu sektor prioritas pembangunan Kabupaten Kutai Timur karena memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian daerah, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.

“Manfaatkan kesempatan KKN ini untuk terus mengasah kemampuan dan menimba pengalaman sebanyak mungkin sebagai bekal menghadapi masa depan,” pesan Ardiansyah kepada para mahasiswa.

Sementara itu, Ketua STIPER Kutim Ismail Fahmy Almadi mengatakan 53 mahasiswa peserta KKN akan ditempatkan di enam desa, yakni Bukit Permata, Bumi Rapak, Cipta Graha, Kadungan Jaya, Mata Air, dan Pengadan Baru.

Ia menjelaskan, penempatan mahasiswa difokuskan pada upaya mengoptimalkan potensi desa, mendampingi petani lokal, serta mendorong regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian yang saat ini menjadi tantangan pembangunan.

“Program KKN ini dirancang agar mahasiswa dapat berkolaborasi dengan masyarakat sekaligus mendukung pengembangan sektor pertanian sesuai kebutuhan di masing-masing desa,” kata Ismail.

Selain menjalankan pengabdian kepada masyarakat, para peserta KKN juga diminta menyelaraskan program kerja mereka dengan arah kebijakan pembangunan yang sedang dijalankan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap KKN mampu menjadi motor penggerak dalam mewujudkan desa yang mandiri, tangguh, dan memiliki daya saing,” tambahnya.