Sangatta News – Sektor pertanian di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah menghadapi alarm serius yakni 63,76 persen petani kini berusia di atas 45 tahun. Data ini menjadi peringatan keras bahwa tanpa campur tangan pemuda, ketahanan pangan daerah berada dalam ancaman nyata.
Kepala Dinas Pertanian Kutim, Diah Ratnaningrum, menegaskan bahwa peran petani milenial bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis untuk keberlanjutan hidup masyarakat Kutai Timur ke depan.
“Komite Tani Muda ke depan akan sangat dibutuhkan. Pemuda harus mengambil peran strategis. Pertanian kita tidak lagi konvensional, tapi beralih ke teknologi modern dan ramah lingkungan,” tegas Diah mewakili Bupati Kutai Timur dalam Dialog Publik bertema “Inovasi Ekonomi Hijau untuk Ketahanan Pangan yang Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing” yang digelar Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kutai Timur, Kamis (18/12/2025).
Pemerintah daerah tidak main-main dalam menyiapkan panggung bagi para pemuda. Diah memaparkan rencana besar pencetakan sawah seluas 1.900 hektare pada tahun 2025, yang mencakup wilayah Sangkulirang hingga Bengalon.
Dengan produktivitas lahan yang sudah mencapai 6–7 ton per hektare, sektor pertanian diproyeksikan menjadi mesin ekonomi baru yang lebih berkelanjutan. “Potensi kita luar biasa, seperti Pisang Kepok dan Nanas Bunga Putih yang sudah dikenal nasional. Jika dikelola serius oleh anak muda, sektor ini bisa bertahap menggantikan ketergantungan kita pada sektor pertambangan,” tambahnya.
KNPI Siapkan “Pasukan” Tani Muda
Merespons tantangan tersebut, Ketua DPD KNPI Kutai Timur, Avivurahman, langsung bergerak dengan membentuk Komite Tani Muda di tingkat kecamatan, diawali dari Sangkulirang. Langkah ini diambil untuk memastikan pemuda Kutim tidak hanya menjadi penonton dalam transformasi ekonomi hijau.
“Kami ingin melahirkan gagasan dan kebijakan yang pro-rakyat dan pro-pemuda. KNPI terus mendorong transformasi pemuda agar menjadi kekuatan strategis pembangunan, terutama di sektor pertanian,” ujar Avivurahman.
Dialog yang berlangsung di Ruang Meranti, Gedung Bupati Kutim ini, juga menggarisbawahi bahwa wajah pertanian masa depan adalah teknologi. Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) modern dan pemanfaatan limbah pertanian menjadi daya tarik utama bagi generasi milenial untuk terjun ke ladang.
KNPI berharap dialog ini menjadi titik balik bagi mahasiswa, aktivis, dan petani muda untuk berkolaborasi menciptakan inovasi ekonomi hijau yang mandiri dan berdaya saing. Dengan lahan yang luas dan teknologi yang tepat, Kutai Timur optimistis bisa menjadi lumbung pangan yang tangguh di Kalimantan Timur. (Ainun)


Tinggalkan Balasan