Sangatta News — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak ingin lagi sekadar menjadi penonton dalam rantai pasok komoditas mentah. Memanfaatkan statusnya sebagai salah satu raksasa hijau, Pemkab Kutim kini tancap gas memacu hilirisasi sektor perkebunan kelapa sawit dengan membidik investasi pembangunan pabrik minyak goreng dan biodiesel senilai Rp3 triliun.

Bukan tanpa modal, ambisi besar ini ditopang oleh luas lahan perkebunan kelapa sawit di Kutim yang telah mencapai 500.000 hektare. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim, Novian Prananta, menegaskan bahwa ketersediaan bahan baku yang melimpah merupakan keunggulan komparatif mutlak yang tidak bisa diabaikan oleh para pemodal internasional maupun domestik.

“Bahan baku sudah sangat siap. Kami punya 38 pabrik Crude Palm Oil (CPO) yang aktif beroperasi. Tugas kami sekarang adalah ‘menjemput bola’ dan meyakinkan investor bahwa Kutai Timur adalah tempat paling tepat dan aman untuk menanamkan modal,” ujar Novian optimistis saat ditemui di Sangatta.

Guna menyukseskan agenda megaproyek ini, Pemkab Kutim menempatkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kecamatan Kaliorang sebagai epicentrum utama industri turunan sawit.

Lokasi KEK Maloy dinilai sangat seksi bagi para pelaku industri karena berada langsung di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Didukung oleh pelabuhan internasional, kawasan ini diyakini mampu memangkas biaya logistik secara radikal—sebuah variabel yang selama ini kerap menjadi momok krusial bagi efisiensi dunia industri pengolahan.

Sadar bahwa kenyamanan investor adalah kunci, Pemkab Kutim tidak hanya mengobral letak geografis yang strategis. Dari sisi kepastian hukum, Pemkab telah resmi mengesahkan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Industri Kabupaten (RPIK).

Regulasi ini disiapkan sebagai payung hukum utama sekaligus kompas agar pengembangan industri pengolahan sawit di Kutim berjalan lebih terarah, aman, dan berkelanjutan. Novian menambahkan bahwa pembenahan iklim investasi dan infrastruktur pendukung kini menjadi prioritas nomor satu.

“Kami ingin hilirisasi ini tidak sekadar seremonial membangun pabrik, tetapi benar-benar melahirkan multiplier effect: memberikan nilai tambah bagi ekonomi daerah sekaligus membuka lapangan kerja massal bagi masyarakat Kutim,” tambahnya.

Jika target investasi Rp3 triliun ini sukses terealisasi di kawasan KEK Maloy, wajah perekonomian Kutai Timur dipastikan akan mengalami transformasi struktural yang radikal. Kehadiran pabrik minyak goreng dan biodiesel lokal secara otomatis akan menggeser ketergantungan daerah dari ekspor bahan mentah menuju produk hilir bernilai jual tinggi.

Langkah berani Pemkab Kutim ini sekaligus mengirimkan sinyal kuat ke Jakarta bahwa daerah siap menyokong penuh agenda strategis nasional terkait kemandirian pangan dan kedaulatan energi berbasis kelapa sawit di wilayah Kalimantan.