Sangatta News – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) telah membuktikan diri sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Indonesia. Namun, di balik angka fantastis ini, Pemkab Kutim menyadari tantangan besar di depan yakni transformasi struktur ekonomi dari ketergantungan pertambangan menuju sektor-sektor non-basis.
Pada tahun 2024, ekonomi Kutim melonjak hingga 9,82 persen, hampir dua kali lipat rata-rata nasional (5,03%) dan melampaui Provinsi Kalimantan Timur (6,17%). Untuk menghadapi era baru ini, Kutim mengambil langkah strategis dengan membentuk Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED).
Pembentukan TP2ED ini bukan sekadar mengikuti arahan Kemendagri, melainkan implementasi nyata Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional 8% pada 2029.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Percepatan Ekonomi Daerah di Bappeda Kutim, Kamis (23/10/2025), menegaskan pencapaian pertumbuhan ekonomi 9,82 persen membuktikan bahwa arah kebijakan pembangunan daerah di Kutim berada di jalur yang tepat.
“Pertumbuhan ini tidak hanya tercermin pada sisi ekonomi makro, tetapi juga diiringi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 75,90, di saat yang sama, angka kemiskinan berhasil ditekan dari 9,06 persen pada tahun 2023 menjadi 8,81 persen pada tahun 2024,” katanya.
Meskipun capaian ini patut disyukuri, Bupati Ardiansyah menekankan bahwa lebih dari 80 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutai Timur masih bergantung pada sektor pertambangan. Seiring dengan arah kebijakan global untuk mengurangi ketergantungan energi fosil, Kutim harus bersiap beralih.
“Kita harus bersiap untuk melakukan transformasi menuju sektor-sektor non-basis, seperti pertanian dalam arti luas, industri manufaktur, perikanan, perkebunan, dan peternakan,” tegasnya.
Visi besar “Kutai Timur Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing” untuk periode 2025–2029 akan didukung oleh 50 program unggulan. Program-program ini difokuskan pada peningkatan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan penguatan sumber daya manusia yang berdaya saing, dengan tujuan agar manfaat pembangunan dirasakan merata hingga ke pelosok desa.
Penjaga Ekonomi dan Pengawal Transformasi
Tugas utama TP2ED sangat krusial, tidak hanya mengawal dan memantau pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga mengatasi berbagai persoalan ekonomi seperti pengendalian harga, penciptaan lapangan kerja, serta optimalisasi potensi ekonomi lokal.
Kepala Bidang Perekonomian dan Pembangunan Bappeda Kutim, Ripto Widargo, menambahkan bahwa TP2ED akan fokus pada pemantapan data dari setiap Perangkat Daerah (PD) ke dalam dashboard yang disiapkan Kementerian Dalam Negeri. Data yang akurat dan tervalidasi ini akan menjadi panduan penting dalam menghadapi tantangan transformasi ekonomi Kutim.
Dengan TP2ED sebagai motor penggerak, Kutai Timur siap melangkah memasuki babak baru pembangunan, mengukuhkan dirinya bukan hanya sebagai daerah yang kaya sumber daya alam, tetapi juga mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.


Tinggalkan Balasan