Sangatta News – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Ikhlas Swarga Bara, Komplek Perumahan Lembah Hijau, pada Sabtu (17/1/2026) malam. Ratusan jemaah dari berbagai usia berkumpul untuk memperingati peristiwa agung Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Menariknya, Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman yang hadir malam itu tidak hanya duduk sebagai tamu undangan. Ia didaulat langsung menjadi penceramah utama untuk mengupas makna mendalam di balik tema “Isra Mi’raj sebagai Refleksi Diri Umat yang Taat.”
Membuka tausiahnya, Bupati Ardiansyah mengingatkan jemaah bahwa saat ini kita berada di bulan Rajab, salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang melarang umat Islam menzalimi diri sendiri di bulan-bulan suci tersebut.
“Bulan Rajab adalah pintu menuju keberkahan. Kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT agar hati kita dipersiapkan menghadapi bulan-bulan berikutnya,” ujar Ardiansyah.
Ia menjelaskan bahwa Isra Mi’raj adalah bukti kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih pilihan Allah. Salah satu bentuk penghormatan itu adalah kewajiban bersalawat, yang bahkan diperintahkan Allah SWT kepada seluruh umat-Nya sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah. “Allah SWT sendiri bersalawat kepada nabi. Maka kita sebagai umatnya juga diperintahkan untuk bersalawat dan meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Bupati menyampakan “oleh-oleh” terbesar dari perjalanan Isra Mi’raj, yakni perintah shalat lima waktu. Ia menegaskan bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, melainkan landasan hidup bagi seorang Muslim.
“Tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan shalat. Peristiwa Isra Mi’raj harus menjadi pengingat bagi kita untuk mengevaluasi kembali sejauh mana kualitas ketaatan kita kepada Allah SWT,” tegasnya.
Acara yang diawali dengan penampilan menarik dari anak-anak TK Al Ikhlas ini berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Masjid tampak padat oleh warga yang ingin menyerap ilmu sekaligus bersilaturahmi langsung dengan pemimpin daerah mereka.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi mampu mempererat hubungan emosional antara pemerintah dan masyarakat dalam bingkai nilai-nilai religius yang kuat.


Tinggalkan Balasan