Sangatta News – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menegaskan perlunya perubahan pola pikir dalam mengembangkan sektor peternakan sapi di daerah. Setelah melakukan studi tiru ke Kabupaten Malang, Jawa Timur, ia melihat bahwa keberhasilan peternak di daerah tersebut bukan hanya karena fasilitasnya, tetapi karena kesadaran bahwa beternak adalah bisnis yang harus diperhitungkan, bukan sekadar penerima bantuan.
Mahyunadi menjelaskan bahwa tiga model peternakan yang ia kunjungi—peternakan perusahaan, peternakan rumahan, dan bengkel ternak—menunjukkan bagaimana peternak bisa mendapatkan keuntungan besar jika dikelola dengan orientasi usaha.
“Kalau di sana betul-betul beternak untuk mencari untung. Kalau di sini beternak karena dibantu, jadi mindset-nya berbeda,” tegas Mahyunadi usai memberikan keterangan di halaman Kantor Bupati.
Pada peternakan skala perusahaan, siklus penggemukan 100 hari mampu melipatgandakan nilai sapi dari Rp18 juta menjadi hampir dua kali lipat. Peternakan rumahan bahkan memberi pendapatan stabil; anak sapi yang lahir 50 kilogram bisa mencapai 800 kilogram dalam tiga tahun, menghasilkan estimasi keuntungan Rp1,5 juta per bulan.
Ia juga menyoroti bengkel ternak sebagai model yang sangat potensial. Dengan membeli sapi kurus seharga Rp7–10 juta kemudian digemukkan selama enam bulan, sapi tersebut dapat dijual hingga Rp30 juta. “Ini luar biasa. Dari sapi yang hampir tidak terurus bisa menghasilkan tiga kali lipat,” ucapnya.
Untuk mendukung ekosistem peternakan modern, Mahyunadi menilai Kutim membutuhkan balai benih sapi agar kualitas bibit terjamin. Selain itu, pemanfaatan lahan nganggur dan eks tambang untuk menanam jagung sebagai pakan juga menjadi strategi kunci.
“Kalau masyarakat membeli bibit dari luar tanpa jaminan kualitas, akhirnya rugi. Dengan balai benih, peternak bisa dipastikan mendapat bibit bagus,” jelasnya. Ia juga mendorong masyarakat mulai beralih ke sapi BX atau Brahman yang lebih sesuai untuk kebutuhan konsumsi daging dibanding sapi Bali.
Meski masih tahap kajian, Mahyunadi menekankan bahwa setiap program peternakan harus dihitung matang agar tidak membebani anggaran. “Mindset ini yang harus kita ubah. Beternak itu harus dengan ilmu, niat, dan perhitungan usaha, bukan sekadar karena bantuan,” pungkasnya. (Adv)


Tinggalkan Balasan