Sangatta News — Hujan di hulu membawa petaka di hilir. Sejumlah permukiman di Kota Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, kembali mendapat kiriman luapan air sungai sehingga terendam banjir. Salah satu titik yang terdampak terpantau di Gang Banjar, Kelurahan Teluk Lingga.

Kawasan yang berbatasan langsung dengan bantaran sungai ini kerap menjadi “langganan” banjir kiriman. Namun kali ini warga melaporkan kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Salah seorang warga, Nita Safitri, menyampaikan keluh kesahnya terkait banjir kiriman yang sering terjadi. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga menimbulkan rasa takut bagi warga akibat kemunculan predator sungai seperti buaya.

“Banjir kiriman ini sering sekali terjadi. Yang membuat kami semakin takut adalah kemunculan buaya di sekitar permukiman. Apalagi baru-baru ini warga sempat menangkap buaya berukuran jumbo di dekat sini,” ujar Nita dengan nada cemas. Keberadaan pemangsa ini menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga, terutama anak-anak yang sering beraktivitas di sekitar genangan air.

Buruknya drainase alami memperparah kondisi ini. Nita membeberkan bahwa aliran sungai di dekat permukimannya kini nyaris tak terlihat akibat tertutup rapat oleh hamparan tanaman liar dan gulma. Aliran air yang seharusnya lancar menuju muara justru tersumbat, mengakibatkan air cepat meluap ke rumah warga.

“Sekarang sungainya hampir tidak kelihatan lagi, lebih mirip hamparan rumput luas. Selain itu, pagar pembatas sungai yang dibangun pemerintah juga sudah banyak yang roboh dan rusak,” tambahnya sembari menunjukkan kondisi pagar yang tak lagi mampu menahan abrasi.

Merespons kondisi yang kian memprihatinkan, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk segera mengambil langkah konkret. Normalisasi sungai berupa pengerukan sedimen dan pembersihan tanaman liar menjadi tuntutan utama yang tidak bisa ditunda lagi.

Warga Teluk Lingga berharap adanya perbaikan pagar pembatas sungai yang lebih kokoh untuk mencegah predator masuk ke wilayah padat penduduk. Tanpa penanganan serius dari hulu ke hilir, warga Sangatta akan terus hidup dalam bayang-bayang keresahan setiap kali awan mendung menggelayut di langit. (Ainun)