Sangatta News – Di tengah euforia pelantikan pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kutai Timur (Kutim) dan Pembukaan Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati 2025, Bupati Ardiansyah Sulaiman menyampaikan pesan penting. Ia menyoroti minimnya pengembangan seni bela diri tradisional khas Kutai, Kuntau, yang saat ini hanya muncul sebagai atraksi seremonial.
Bupati secara terbuka meminta IPSI Kutim untuk segera menggali potensi Kuntau dan mengembangkannya tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai cabang olahraga prestasi.
“Sesungguhnya Kutai itu punya silat tersendiri namanya Kuntau. Tapi sayangnya, sampai saat ini sepertinya Kuntau itu hanya sering muncul pada saat seremoni saja. Padahal, itu akar silat budaya Kutai sejak zaman bahari, zaman kerajaan,” ungkap Bupati Ardiansyah.
Bupati menambahkan bahwa meskipun ia sering disambut atraksi Kuntau di beberapa desa seperti Senyur dan Muara Bengkal, ia menyayangkan bahwa pertunjukan tersebut sebagian besar hanya fokus pada aspek seni, bukan peningkatan prestasi atau keikutsertaan dalam kejuaraan.
“Saya meminta kalau IPSI mampu menggali potensi budaya yang masih ada ini untuk dikembangkan lagi. Saya yakin perguruan kita juga akan bertambah. Bela diri juga akan bertambah sektornya,” tegasnya, berharap Kuntau dapat berkontribusi menyumbang atlet silat Kutim di masa depan.
Pelantikan IPSI dan Komitmen Prestasi
Acara yang berlangsung di GOR Bela Diri Kudungga Sangatta, Kamis (23/10/2025), ini dihadiri jajaran Forkopimda, Ketua KONI Kutim Rudi Hartono, serta perwakilan 18 perguruan pencak silat yang bernaung di bawah IPSI Kutim.
Bupati Ardiansyah secara resmi membuka Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati 2025 dan melantik pengurus IPSI periode 2025–2029. Ia menekankan agar pengurus baru IPSI segera memberikan kontribusi dalam peningkatan prestasi olahraga daerah.
“Luar biasa yang hadir alhamdulillah. Ada 12 perguruan yang hadir di dalam kejuaraan pencak silat pada tahun ini,” ujar Bupati, bangga dengan tingginya antusiasme komunitas bela diri lokal.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Kutim sejak tahun 2022 telah rutin menggelar berbagai event olahraga, termasuk 11 event yang dibungkus dengan Piala Bupati tahun ini, yang bertujuan tunggal: melahirkan atlet berprestasi.
“Silat itu memang satu sisi membungkus fisik dalam rangka untuk menguatkan kebugaran, tapi di sisi lain adalah meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan spiritualitas,” pungkas Bupati, berharap pencak silat—termasuk Kuntau—dapat menjadi penyumbang atlet bagi Kaltim di kancah nasional.


Tinggalkan Balasan