Sangatta News – Mengawali 2026, kinerja perdagangan luar negeri Kalimantan Timur (Kaltim) harus menerima pukulan telak. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim mencatatkan nilai ekspor Bumi Etam anjlok drastis sebesar 31,25% pada Januari 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.

Nilai ekspor yang pada Desember 2025 masih perkasa di angka US$2,30 miliar, kini merosot tajam menjadi hanya US$1,58 miliar. Kepala BPS Kaltim, Mas’ud Rifai, mengungkapkan bahwa penurunan ini dipicu oleh melemahnya seluruh sektor andalan. Ekspor migas tercatat terjun bebas hingga 56,23%, sementara sektor nonmigas turun 28,01%.

Penyumbang penurunan terbesar berasal dari dua komoditas primadona Kaltim. Batubara (Bahan Bakar Mineral) turun signifikan sebesar US$309,21 juta (21,07%). Meski begitu, tambang tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi 73,06% terhadap total ekspor.

Sementara komoditas CPO (Lemak & Minyak Nabati), mengalami hantaman lebih keras dengan penurunan sebesar 51,84% atau setara kehilangan nilai US$213,95 juta.

Ironisnya, di saat ekspor merosot, nilai impor Kaltim justru naik tipis 5,62% menjadi US$637,64 juta. Lonjakan ini didominasi oleh impor minyak mentah yang membengkak hingga 157,32%.

Kondisi ini membuat surplus neraca perdagangan Kaltim tergerus hebat. Jika pada Desember 2025 Kaltim menikmati surplus US$1,70 miliar, pada Januari 2026 angka tersebut menyusut menjadi **US$947,42 juta**.

Dari sisi destinasi, China masih tak tergoyahkan sebagai pasar utama dengan serapan 38,62% (US$567,41 juta), disusul India dan Filipina. Namun, ada secercah harapan dari Benua Biru; ekspor ke Uni Eropa justru tumbuh 37,82%, dengan Belanda muncul sebagai tujuan baru yang potensial.

Pelabuhan Balikpapan menegaskan perannya sebagai pusat logistik utama di Indonesia Timur dengan menguasai 32,25% total ekspor dan mendominasi 88,29% aktivitas impor Kaltim. Sementara itu, Pelabuhan Samarinda berada di posisi kedua sebagai pintu keluar komoditas ekspor.