Sangatta News — Pesisir Pantai Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, kembali bergemuruh. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) resmi membuka gelaran tahunan Festival Sekerat Nusantara V yang berlangsung pada 10–12 Juli 2026. Mengusung tema “Sekerat Bersatu, Nusantara Bergema”, festival budaya ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi.
Tahun ini, festival terasa jauh lebih sakral dan emosional bagi masyarakat suku Kutai. Pasalnya, ritual adat andalan mereka, Belian Semegah, secara resmi telah diakui dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.
Penetapan Belian Semegah sebagai WBTB Nasional diraih setelah melalui proses verifikasi lapangan dan sidang penetapan yang sangat ketat oleh tim ahli Kemendikbudristek. Pengakuan ini mempertegas posisi ritual tersebut sebagai identitas budaya daerah yang bernilai spiritual, sosial, dan memiliki kearifan lokal yang tinggi.
Wakil Bupati Mahyunadi menegaskan bahwa menjaga identitas kebudayaan lokal di tengah arus modernisasi adalah hal wajib demi mempertahankan jati diri daerah.
“Ini menjadi bukti nyata kekayaan budaya lokal yang terus hidup. Festival ini adalah upaya taktis kita untuk mempromosikan berbagai potensi keunggulan daerah, terutama pariwisata budaya dan seni yang sangat beragam di Kutai Timur,” ujar Wabup Mahyunadi.
Sebagai jantung dari festival, Ritual Adat Belian Semegah dilangsungkan maraton selama tujuh hari tujuh malam. Tradisi sakral suku Kutai ini berfungsi sebagai bentuk rasa syukur, penolak bala, permohonan keselamatan, obat tradisional, serta penghormatan kepada para leluhur.
Prosesi magis ini dipusatkan di Lapangan Desa dan Pantai Sekerat dengan rangkaian yang sangat tertata. Dipimpin oleh seorang Belian (dukun adat) yang merapalkan mantra dan doa-doa adat sembari menari diiringi alunan musik tradisional, lengkap dengan persembahan sesajen hasil bumi dan laut.
Masyarakat mempersembahkan hasil alam sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang melimpah. Pelarungan Perahu Naga ke tengah laut sebagai simbol permohonan maaf kepada alam serta doa agar para nelayan senantiasa diberikan keselamatan dan tangkapan yang melimpah.
Bagi pemerintah desa, festival berskala nasional ini menjadi momentum penting untuk melepaskan ketergantungan ekonomi masyarakat dari sektor industri ekstraktif (tambang dan migas). Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, menyebut festival ini sebagai ruang sinergi nyata yang melibatkan pelaku UMKM untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan.
Kepala Desa Sekerat, Sunan Dhika, menyatakan status WBTB Nasional ini merupakan pendorong besar bagi pembangunan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
“Kami ingin masyarakat kita tidak hanya tergantung dari sektor industri. Melalui pariwisata seni budaya ini, kita harapkan kemandirian ekonomi desa bisa tegak berdiri. Namun, kami juga punya tantangan besar di sektor sarana prasarana pendukung, terutama akses infrastruktur jalan. Kami sangat berharap ada kolaborasi kuat antara pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan swasta di wilayah Sekerat untuk mempercepat perbaikan jalan demi kesejahteraan warga,” harap Sunan Dhika.


Tinggalkan Balasan