Sangatta News — Deru mesin perahu ketinting dan tawa renyah puluhan pemancing memecah kesunyian Dermaga Majai, Sangatta Utara, Sabtu (27/6/2026). Komunitas Udang Galah Borneo Sangatta berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur (Kutim) sukses menyulap hobi memancing menjadi sebuah gerakan masif penyelamatan ekosistem air lewat gelaran Fun Game Memancing Udang Galah dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Ajang rekreasi berbasis lingkungan ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. Kehadiran orang nomor dua di Kutim ini menjadi suntikan moral berharga bagi komunitas yang sempat terseok-seok mempersiapkan acara akibat keterbatasan anggaran.
Di balik kemeriahan acara, Ketua Umum Komunitas Udang Galah Borneo Sangatta, Roni, blak-blakan mengenai beratnya perjuangan panitia di balik layar. Demi menutupi keterbatasan anggaran pemerintah, panitia harus bergerilya menyebarkan proposal ke puluhan perusahaan tambang dan sawit raksasa yang beroperasi di wilayah Kutim.
“Kami menyebarkan proposal ke puluhan perusahaan besar. Namun mirisnya, hanya sekitar tiga sampai empat perusahaan saja yang peduli dan memberikan dukungan. Persiapannya jujur cukup berdarah-darah bagi teman-teman panitia,” ungkap Roni emosional.
Meski minim sokongan korporasi, antusiasme pencinta joran melengkung ini tidak surut. Sebanyak 50 tim (total 150 pemancing) yang didominasi anggota komunitas lokal Sangatta tetap tumpah ruah memadati area perlombaan.
Roni pun menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran Wabup Mahyunadi yang dinilai sebagai sinyal hijau bahwa pemerintah daerah mulai melirik keberadaan komunitas pencinta lingkungan berbasis hobi ini.
Mendengar perjuangan keras panitia, Wakil Bupati Mahyunadi langsung menunjukkan aksi nyata di lokasi. Setelah sebelumnya menyumbang Rp3 juta dari kantong pribadi untuk operasional, di atas panggung Mahyunadi mendadak mengumumkan tambahan bonus Rp5 juta demi mendongkrak total hadiah perlombaan.
“Saya tambah lagi Rp5 juta tunai biar hadiahnya makin tebal dan peserta makin membara! Tapi ingat, yang paling penting jangan ada kecurangan. Kalah menang itu nomor sekian, yang utama adalah menjaga persatuan, kekompakan, dan silaturahmi sesama pencinta Udang Galah Borneo,” seru Mahyunadi disambut gemuruh tepuk tangan peserta.
Wabup mengapresiasi tinggi inisiatif cerdas ini. Menurutnya, Sungai Sangatta saat ini dalam kondisi kritis dan butuh perhatian bersama. Aktivitas merusak manusia telah mengganggu habitat satwa air, termasuk memicu konflik buaya dan manusia akibat rantai makanan yang rusak.
Usai menekan sirine tanda dimulainya perlombaan, Mahyunadi bahkan ikut naik ke perahu untuk menyusuri sungai, menyapa, dan membakar semangat para peserta yang mulai berburu monster udang galah dari atas sampan masing-masing.
Di sisi lain, perwakilan DLH Kutim yang diwakili oleh Kepala UPT Kebersihan Sangatta Utara, Jurianto, menitipkan pesan edukasi yang menohok. Ia mengingatkan bahwa Sungai Sangatta bukan tempat sampah raksasa.
“Sampah yang dibuang ke sungai akan hancur menjadi mikroplastik. Mikroplastik ini dimakan oleh ikan dan udang galah, lalu udang tersebut kita pancing dan kita makan. Secara tidak sadar, kita sedang meracuni tubuh kita sendiri,” tegas Jurianto.
Ia mendesak warga untuk patuh pada Perda Nomor 7 Tahun 2012, yang mengatur jam steril pembuangan sampah ke TPS, yakni hanya diperbolehkan mulai pukul 18.00 hingga 06.00 WITA.
Melalui denyut nadi perlombaan ini, panitia dan Pemkab Kutim berharap para pemancing bisa menjadi garda terdepan sekaligus “mata dan telinga” pemerintah dalam menjaga kebersihan Sungai Sangatta, demi memastikan udang galah tetap lestari hingga generasi mendatang.


Tinggalkan Balasan