Sangatta News – Masyarakat di wilayah utara Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tak lama lagi bakal memiliki fasilitas kesehatan rujukan yang lebih dekat dan memadai. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim kini tengah mematangkan rencana pembangunan Rumah Sakit (RS) Tipe D Muara Wahau yang ditargetkan mulai beroperasi penuh melayani warga pada tahun 2029.

Langkah ini dirancang tidak hanya sekadar membangun fisik gedung, tetapi juga menyiapkan ketersediaan dokter spesialis dan tenaga medis secara menyeluruh guna memutus jarak tempuh berobat masyarakat yang selama ini harus merujuk ke Sangatta, Samarinda, hingga Balikpapan.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengungkapkan bahwa tahun 2026 menjadi fase krusial penyelesaian dokumen dasar sebelum pengerjaan fisik dimulai. Tahun ini dilakukan penyusunan studi kelayakan (feasibility study), Detail Engineering Design (DED), serta dokumen lingkungan UKL-UPL.

Pada 2027–2028, konstruksi bangunan rumah sakit di Jalan Aneka, Desa Wanasari, yang dilaksanakan secara bertahap selama dua tahun. Sementara pada 2028–2029 pemenuhan alat kesehatan (alkes), fasilitas penunjang, hingga penempatan tenaga kesehatan.

“Harapannya 2029 sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun, jika seluruh proses pengerjaan dan pemenuhan kebutuhan rumah sakit bisa selesai lebih awal, tentu target operasionalnya bisa dipercepat,” ujar Yuwana usai ditemui di depan Ruang Arau Kantor Bupati Kutim, Senin (10/8/2026).

Yuwana menekankan bahwa penetapan linimasa ini tetap menyesuaikan dengan kondisi fiskal daerah, namun proyek ini dipastikan menjadi prioritas utama demi pemerataan layanan kesehatan di wilayah Kutim.

Sejalan dengan penyediaan infrastruktur di Jalan Aneka, Desa Wanasari, Dinkes Kutim menggaransi bahwa pemenuhan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan dipersiapkan sejak awal agar fasilitas RS Tipe D ini langsung optimal saat dibuka.

Kebutuhan tenaga medis terbilang cukup besar, terutama untuk menyokong operasional Instalasi Gawat Darurat (IGD) 24 jam serta layanan rawat inap. Selain dokter umum, bidan, dan perawat, Dinkes Kutim memfokuskan pemenuhan dokter spesialis dasar agar fungsi rumah sakit rujukan berjalan maksimal.

“Untuk kebutuhan dokter di sana cukup besar, khususnya di pelayanan IGD dan rawat inap. Kebutuhan tenaga kesehatan ini nantinya disesuaikan dengan kompetensi dan jenis pelayanan yang tersedia,” jelas Yuwana.

Secara geografis, Kecamatan Muara Wahau memegang peranan strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik di kawasan utara Kutai Timur. Keberadaan RS Tipe D ini diproyeksikan menjadi penyangga utama (health hub) bagi warga Muara Wahau dan kecamatan-kecamatan di sekitarnya.

Selama ini, warga di wilayah utara kerap harus menempuh perjalanan darat berjam-jam menuju RSUD Kudungga di Sangatta atau bahkan hingga ke kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan untuk mendapatkan penanganan medis tertentu.

“Dengan adanya rumah sakit ini, masyarakat tidak perlu jauh-jauh lagi ke Samarinda atau Balikpapan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Cukup di Muara Wahau,” pungkas Yuwana.