Sangatta News — Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali membuktikan komitmen masifnya dalam sektor kesehatan masyarakat. Ditunjuk mewakili Provinsi Kalimantan Timur sebagai tuan rumah Webinar Nasional Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Kutim membeberkan strategi komprehensif dalam memburu, mendampingi, dan menuntaskan kasus TBC hingga ke pelosok desa.

Kegiatan yang diikuti pengurus PPTI dari seluruh penjuru Indonesia ini digelar secara daring dari ruang Rapat Diskominfo Staper Kutim pada Rabu (23/9/2026). Ketua Umum BPP-PPTI, Yani Panigoro, memuji langsung langkah progresif dan kepemimpinan Kutim dalam perang melawan TBC.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kutai Timur yang memiliki komitmen sangat kuat untuk terus melakukan eliminasi TBC secara berkelanjutan,” puji Yani Panigoro.

Ketua PPTI Cabang Kutai Timur, Ir. Hj. Siti Robiah Ardiansyah, memaparkan bahwa keberhasilan penanganan TBC di Kutim tidak terlepas dari penguatan struktur organisasi yang mengakar hingga ke tingkat tapak. PPTI Kutim kini telah mengukuhkan 18 Pengurus Anak Cabang (PAC) di seluruh kecamatan dengan total 283 pengurus, serta menyiagakan 282 kader desa/kelurahan yang telah lulus pelatihan penyegaran dan On Job Training (OJT).

Kekuatan armada kader ini dibuktikan melalui aksi nyata tracing TBC yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 118 lokus dengan target 11.800 sasaran warga.

Tak hanya melacak kasus aktif, PPTI Kutim juga berhasil menggenjot cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak erat serumah—melonjak signifikan dari 4,7 persen pada 2025 menjadi 22,4 persen hingga September 2026 berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Menuntaskan TBC tak cukup hanya memberikan obat. Siti Robiah menegaskan bahwa penanganan aspek sosial dan eliminasi stigma jauh lebih krusial agar pasien tidak takut memeriksakan diri maupun putus berobat di tengah jalan.

Untuk itu, PPTI Kutim menggalang kolaborasi “keroyokan” lintas sektor yang melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perkim, Baznas, hingga kalangan dunia usaha. PPTI akan melakukan intervensi sanitasi dan tempat tinggal dengan merenovasi ventilasi dan penyediaan jamban sehat bagi penderita TBC berpenghasilan rendah.

Selain itu juga diberikan dukungan nutrisi dan logistik dengan menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada 200 pasien, serta penyediaan bantuan transportasi khusus rujukan bagi penderita TBC Resistan Obat (RO). Sektor swasta juga didorong untuk melakukan pembinasan kader internal perusahaan guna melancarkan sosialisasi kesehatan dan advokasi perlindungan pekerja terinfeksi TBC.

“Penyelesaian TBC bukan cuma tugas satu instansi, tapi kewajiban seluruh elemen masyarakat. Dengan penyuluhan rutin 3–5 kali sebulan hingga ke tempat ibadah dan sekolah, orang semakin paham, makin berani periksa, dan mau berobat sampai tuntas,” tegas Siti Robiah.