Sangatta News – Dampak cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino berkepanjangan kian nyata merusak sektor pertanian Kalimantan Timur (Kaltim). Kabupaten Kutai Timur (Kutim) turut menjadi korban keganasan kondisi kering ini, di mana tercatat 45 hektar lahan pertanian di Kutim mengalami puso (gagal panen) total akibat krisis pasokan air.

Kondisi meresahkan di Kutim tersebut merupakan bagian dari gambaran besar krisis pangan daerah. Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim merilis data terbaru hingga pertengahan September 2026, yang mencatat total 2.620 hektar lahan pertanian se-Kaltim kini terdampak kekeringan.

Kondisi lahan pertanian di sentra-sentra produksi pangan Kaltim kini berada dalam tingkat kerawanan yang mengkhawatirkan. Selain menyasar Kutai Timur, kekeringan terparah juga melanda wilayah lumbung beras lainnya seperti Kutai Kartanegara (Kukar), Paser, hingga Penajam Paser Utara (PPU).

“Di lumbung-lumbung pangan yang mengalami dampak kekeringan terutama memang yang masih mengandalkan sistem tadah hujan,” terang Kepala DPTPH Kaltim, Fahmi Himawan, saat menjadi pembicara terkait ketahanan pangan daerah, Selasa (22/9/2026).

Ancaman ini diprediksi masih membayang hingga awal 2027. Meski BMKG memproyeksikan adanya peluang hujan pada Oktober, curah hujan diperkirakan tetap berada di bawah rata-rata normal.

Menghadapi ancaman krisis pangan yang kian nyata, pemerintah daerah bergerak cepat mengambil serangkaian tindakan darurat guna menyelamatkan sisa lahan yang masih berproduksi. Petani diimbau dan diarahkan untuk segera beralih menggunakan varietas padi berumur genjah yang tahan kekeringan, seperti jenis Inpari atau Inpara.

Sebanyak 333 unit pompa air (kapasitas 3–4 inci) bantuan pusat dan daerah yang tersebar di kabupaten/kota dioptimalkan penempatannya. Pompa yang tidak terpakai di satu wilayah bakal diredistribusi ke kelompok tani yang berada di titik terparah. Pemerintah menyiapkan bantuan bahan bakar minyak (BBM) secara terbatas untuk memastikan mesin-mesin pompa air kelompok tani dapat terus menyedot pasokan air ke areal persawahan.

Dengan perpaduan langkah teknis dan optimalisasi sarana pengairan ini, Pemkab Kutim bersama Pemprov Kaltim terus berpacu dengan waktu untuk menekan angka gagal panen demi menjaga stabilitas ketahanan pangan daerah.