Sangatta News — Suasana khidmat dan penuh rasa nasionalisme menyelimuti Halaman Kantor Sekretariat Kabupaten (Setkab) Kutai Timur, Bukit Pelangi, pada Kamis (1/10/2026) pagi. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menggelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Ke-61, sebuah perhelatan tahunan yang menjadi momentum krusial untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai ideologi tunggal, fondasi moral, sekaligus perekat utama kebangsaan.

Upacara dipimpin langsung oleh Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara. Turut hadir mendampingi, Wakil Bupati Mahyunadi, Ketua DPRD Kutim Jimmi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para Kepala Perangkat Daerah, serta tokoh masyarakat. Barisan peserta upacara tampak memenuhi lapangan dari berbagai unsur—mulai dari personel TNI-Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), mahasiswa, hingga pelajar SMA/SMK se-Kabupaten Kutai Timur.

Mengusung tema nasional “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2026 ini bukan sekadar agenda seremonial mengenang sejarah, melainkan refleksi mendalam atas ketangguhan ideologi bangsa dalam menghadapi tantangan zaman.

Salah satu prosesi paling sakral dalam upacara tersebut adalah pembacaan Ikrar yang dipimpin secara tegas oleh Ketua DPRD Kutim, Jimmi. Pembacaan ikrar ini menjadi simbol bulatnya tekad seluruh elemen masyarakat dan jajaran pemerintahan Kutai Timur untuk membentengi ideologi Pancasila dari segala ancaman yang ingin menggoyahkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bupati Ardiansyah Sulaiman, yang hadir mengenakan jas hitam resmi, menekankan dalam pesannya bahwa nilai-nilai Pancasila harus terus membumi dan bertransformasi sesuai tantangan zaman, terutama di tengah gempuran gelombang digitalisasi dan era keterbukaan informasi.

“Pancasila harus tetap menjadi bagian dari proses pembelajaran generasi kita, mulai dari pelajar sampai semua anak-anak bangsa di mana pun mereka berada. Di era digital saat ini, keterbukaan informasi membuat beragam ideologi dan nilai asing sangat mudah diakses. Tanpa benteng karakter yang kuat, peradaban digital berisiko mencabut akar budaya kita. Di sinilah Pancasila hadir sebagai penyaring sekaligus kompas moral,” tegas Bupati Ardiansyah usai memimpin upacara.

Selain menyoroti tantangan teknologi, Bupati Ardiansyah memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh lapisan warga Kutai Timur yang selama ini berhasil merawat iklim kondusif. Kabupaten Kutai Timur, yang pada tahun 2026 ini bersiap menyambut usia ke-27 tahun, dikenal sebagai daerah yang sangat heterogen—dihuni oleh beragam suku, agama, dan latar belakang budaya.

Kemampuan masyarakat Kutim untuk hidup berdampingan secara damai tanpa pernah terprovokasi isu-isu pemecah belah menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Pancasila bukan sekadar jargon, melainkan telah menjadi denyut nadi kehidupan warga sehari-hari.

“Peringatan 1 Oktober tidak boleh berhenti pada rutinitas seremonial belaka. Keberagaman dan heterogenitas di Kutai Timur adalah potensi besar, bukan pemisah. Dengan sikap saling menghargai satu sama lain, konsep kita hanya satu: mari bersama-sama kita bangun Kutai Timur yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” tambah Bupati optimistis.

Dengan bergulirnya peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 ini, Pemkab Kutim berharap seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, dapat terus memelihara semangat gotong royong dan menjadikan Pancasila sebagai pendorong utama dalam mewujudkan Kutai Timur yang mandiri dan berdaya saing di masa depan.