Sangatta News — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda merilis peta prakiraan cuaca terbaru untuk dasarian pertama (periode 1–10 Oktober 2026).
Berdasarkan pemantauan deterministik, wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bagian barat laut menjadi salah satu area yang masih berpotensi disiram curah hujan kategori Menengah (50–75 mm) dengan sifat hujan tergolong Normal (84–115%) dan peluang keterjadian mencapai 60–70%.
Kondisi mikro di Kutim barat laut ini berbanding terbalik dengan dinamika cuaca mayoritas wilayah Kalimantan Timur yang mulai memasuki tren curah hujan sangat minim.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, memaparkan bahwa distribusi curah hujan di Benua Etam pada awal Oktober ini menunjukkan variasi spasial yang cukup kontras. Wilayah Kutai Timur bagian barat laut diprakirakan masih mendapatkan pasokan uap air yang cukup untuk memicu hujan skala sedang, mendampingi kawasan Berau barat dan Mahakam Ulu barat.
“Prediksi deterministik menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kaltim diprediksi mengalami curah hujan kategori Rendah (0–50 mm) dengan peluang lebih dari 90%. Namun, ada pengecualian untuk Kabupaten Kutai Timur bagian barat laut, Berau bagian barat, dan Mahakam Ulu bagian barat yang diprediksi mengalami curah hujan kategori Menengah berkisar 50–75 mm,” terang Riza Arian Noor.
Meski sebagian wilayah Kutim masih dipayungi potensi hujan harian, BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) serta krisis air bersih di kawasan tetangga.
Secara umum, Hari Tanpa Hujan (HTH) di Kaltim berada pada kategori Sangat Pendek (1–5 hari). Namun, beberapa daerah seperti Kabupaten Paser, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kota Samarinda telah mencatatkan status Kekeringan Ekstrem. Rekor durasi tanpa hujan terpanjang terdeteksi di Kecamatan Batu Enggau, Kabupaten Paser, yang tidak mengalami hujan selama 69 hari berturut-turut.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bersama jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diimbau untuk terus memantau titik panas (hotspot) serta memanfaatkan pasokan hujan di wilayah barat laut sebagai momentum penampungan cadangan air cadangan masyarakat.


Tinggalkan Balasan